Kepercayaan Diri Sebagai Salah Satu Pondasi Dalam Menggapai Mimpi

Tag


Emm.. mimpi? seringkali saya membolak-balikkan kata itu dalam kepala sembari menghela napas panjang. Saya memiliki banyak mimpi untuk diraih, jika diikira-kira barangkali semua mimpi yang dimiliki oleh orang lain masuk ke dalam daftar mimpi saya. Menjadi seorang penulis, mendidik anak-anak, menyuarakan opini dan memberikan saran tentang lingkungan dan membantu mengentaskan kemiskinan, serta mimpi lain yang tidak cukup untuk disebutkan dalam sebuah wacana. Sungguh saya katakan tidak mudah meraih mimpi itu, namun sebagai hamba Allah Subahanahu Wa Ta a’la, saya berpikir bahwa tidak mudah berarti tidak bisa. Kesulitan merupakan jalan terjal yang harus dilalui oleh semua orang bila dirinya ingin sukses—ingin menggapai mimpinya. Allah bahkan mengatakan dibalik kesulitan pasti akan diberikan kemudahan. Keyakinan tersebut selalu menjadi penyemangat saya kala merasa tidak mampu dan merasa kalah dengan keadaan.

Passion saya memang berada di dunia kepenulisan. Awal mula suka menulis dikarenakan saya memang hobi bercerita dan menyampaikan isi hati melalui tulisan. Tidak jarang orang mengkritisi bahwa manusia seperti saya hanya bisa berbicara, tapi praktik masih belum maksimal. Saya kembali menghela napas dan tersenyum. Saya tidak bisa menyanggah, namun bukan berarti saya persis seperti apa yang dikatakan oleh mereka. Saya selalu berusaha menempatkan diri sebagai orang yang siap menerima proses belajar, dari siapa pun dan apa pun selama itu memberikan manfaat dan pengaruh positif bagi seluruh umat manusia. Ditambah lagi Guru saya sendiri menggambarkan seolah-olah penulis hanya lah seorang komentator dan penonton saja, tidak lebih. Saya kembali tersenyum membacanya dan berusaha tertawa agar tidak memasukkannya ke dalam hati dan menjadi penyakit. Saya percaya kalau Allah memberikan kemampuan pada umat-Nya berbeda-beda. Ada yang harus berteori dan ada pula yang harus melakukan praktik dan ada pula yang berada di kedua posisi tersebut. Tidak ada pekerjaan yang sia-sia meskipun hanya sebuah tulisan. Di belahan bumi lain, seorang pepatah mengatakan “Word is Magic”. Dalam kalimat tersebut terselip makna bahwa sebuah kata mampu mengubah pemikiran seseorang, meluluhkan hati yang keras, dan menggetarkan banyak jiwa yang kesepian.

Keyakinan di atas kerap menjadi modal bagi saya dalam melakukan aktivitas apa pun, bahkan dalam perkara saat ini yang sedang dijalani. Karir pertama sebagai penulis saya coba dengan menulis beberapa artikel di suatu majalah berbasis islami yang fokus pada permasalahan rumah tangga dan perempuan. Sekali lagi, menulis bukan lah perkara mudah. Tulisan saya yang panjang dan bersifat subjektif itu dihapus begitu saja dari draft kepenulisan website majalah yang saya ikuti tanpa alasan yang jelas. Tanpa ada kritikan, perbaikan atau editing. Bukan hanya itu, artikel-artikel yang sudah saya kumpulkan dan review menjadi beberapa paragraf juga gagal dikirim lantaran dianggapp tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Melihat kegagalan pertama saya masih belum menyerah dan mencoba untuk menulis, menulis, dan menulis lagi. Akibat rasa percaya diri saya itu, akhirnya pihak majalah menerima artikel saya meskipun terkadang judul harus diubah dan mendapat komentar beragam dari pembaca. Ada yang pro dan kontra. Saya anggap biasa dan itu sudah wajar, yang terpenting harus percaya pada kemampuan diri sendiri. Jika bukan pada diri sendiri, lalu kekuatan untuk terus bangkit dan berani mencoba dari mana? tentu tidak mungkin mengandalkan orang lain selama kita mampu melakukannya. Awal diterimanya artikel dan diterbitkan di media online makin membuat saya percaya diri bahwa saya mampu menulis lebih baik. Tidak berhenti di situ, saya terus menulis artikel dengan kategori berbeda. Ya, saya memberanikan diri merambah dunia kesehatan, makanan, dan fiqih. Lagi-lagi, menulis memerlukan perjuangan dan kesabaran yang tidak sedikit. Pihak majalah tidak langsung menerima dan menerbitkan tulisan saya, hampir satu minggu lebih tulisan itu menunggu proses persetujuan dan kerap membuat saya untuk merenung memikirkan nasib artikel. Batin saya mengatakan bahwa artikel itu pasti diterima karena bahasanya cukup mudah dimengerti dan ringan, tanpa basa-basi. Well, keyakinan saya rupanya benar adanya. Artikel itu perlahan mulai diterbitkan dan hampir seluruh tulisan saya selalu terbit dengan jumlah pembaca dan share cukup banyak, bahkan mencapai ribuan. Karena hal-hal semacam itu lah semakin membuat kepercayaan diri saya meningkat dan merasa bahwa saya harus mampu melakukan lebih dari ini di bidang kepenulisan yang lain.

Saya menganggap menulis artikel sudah cukup membekali saya untuk merambah dunia menulis yang lain, yakni dunia literasi. Dunia yang dapat dibilang sulit dipelajari bagi kebanyakan orang, sebab butuh ketrampilan dalam memahami, menelaah kata serta mengimajinasikannya menjadi sebuah karya. Saya bukan orang yang berasal dari jurusan sastra, namun lagi-lagi saya hanya mengandalkan kepercayaan diri yang dititipkan oleh Allah ini. Saya awali dengan mengikuti berbagai event yang diselenggarakan oleh beberapa penerbit indie mulai dari cerita pendek, cerita mini, puisi, dan yang paling besar adalah novelet juga novel. Pertama mengikuti sayembara menulis cerpen saya dibuat kaget, sebab pertama kali menulis karya dinyatakan lolos dan masuk sebagai kontributor. Entah bagaimana mengungkapkannya, namun saya sangat senang dan percaya bahwa kepercayaan diri mampu mengawali dan mengubah keyakinan saya terhadap sesuatu. Masuk atau tidaknya menjadi seorang kontributor dalam event selalu saya tanggapi dengan santai karena tulisan seseorang tak selamanya sesuai dengan harapan orang lain dan bisa jadi sebaliknya. Tak usah dijadikan alasan untuk berhenti berkarya.

Kepercayaan diri dan sombong adalah dua hal berbeda. Kepercayaan diri akan mengangkat seseorang berdiri ketika ia jatuh dan akan selalu menemani langkahnya menuju kesuksesan, sedangkan sombong menempatkan kita menjadi satu-satunya orang yang tidak tertandingi

Sebagai muslimah, pekerjaan ini juga berisiko. Untuk menebarkan benih-benih kebaikan dan pesan inspiratif dalam sebuah tulisan memerlukan tanggungjawab yang besar. Tak jarang pekerjaan dan hobi ini sering dijadikan bahan pembicaraan orang lain. Bahkan beberapa kali saya menerima ajakan untuk berkompetisi dalam menghasilkan karya. Namun, saya tolak. Bukan karena saya takut, namun saya tidak ingin menggunakan kemampuan yang diberikan oleh Allah dijadikan alat untuk menyaingi hamba-Nya yang lain demi sebuah penilaian ‘siapa yang pandai’ dan ‘lebih baik’. Tak ayal pula, penolakan saya selalu dianggap sebagai sebuah ketakutan tanpa alasan, tak bisa lebih baik dari mereka, dan cercaan-cercaan buruk yang sudah sering saya terima. Akan tetapi, lagi-lagi saya anggap hidup sudah sewajarnya tidak lepas dari kecintaan dan kebencian. Sebagai manusia yang menanamkan rasa percaya diri terhadap usaha dan ketentuan Allah, saya hanya ingin bermanfaat untuk orang lain, bukan mengungguli atau berkompetisi dengan mereka soal sebuah karya, soal siapa yang lebih pandai dan cerdas—bukan. Halangan dari orang lain tak selalu membuat saya berdiri tegak, bahkan saya memerlukan banyak waktu untuk mengisi kepercayaan diri saya kembali.

“Saya adalah hamba yang lemah di hadapan Allah, tapi bukan berarti di hadapan manusia. Saya tidak boleh terus-terusan diam tanpa melakukan sesuatu. Mendramatisir keterpurukan bukanlah jalan yang harus disinggahi dalam waktu yang lama,” kira-kira seperti itulah kata yang kerap saya dengungkan ketika berhadapan dengan cermin dan menyendiri mencari kepercayaan diri yang sebelumnya hilang akibat ditelan situasi.

Menjadi manusia, apalagi perempuan yang condong menggunakan hati tidak memungkiri jika perasaan lemah seringkali mengacak-acak logika meskipun selalu berusaha percaya diri. Kesedihan dan merasa kerdil saya anggap sebagai rintangan atau bumbu yang harus dinikmati karena sudah menjadi bagian perjalanan menggapai mimpi dan menapaki kehidupan. Oleh karena itu, saya tidak mau berhenti apalagi berputus asa. Saya harus yakin dan berikhtiar, bahwa saya mampu.

jakemHasil quiz dipersembahkan oleh www.serioxyl-confidence.com

Kepercayaan di atas lah yang juga membawa saya pada keadaan saat ini sebagai penulis pemula yang masih aktif menulis di beberapa media online dan memiliki project buku bersama salah satu penerbit indie. Tidak hanya itu, setelah bergabung menjadi salah satu narasumber pada website yang didukung oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak membuat saya semakin yakin bahwa Allah telah membuka pintu lebar menuju kesuksesan. Saya hanya perlu terus yakin, berdoa dan berikhtiar. Tidak hanya itu, kesiapan batin dalam meletakkan kepercayaan diri sebagai salah satu tiang dalam menyikapi berbagai masalah dan menghadapi tantangan sulit di depan harus selalu saya selipkan dalam diri sebagai bekal yang tidak boleh tertinggal. Saya yakin Allah menyukai orang-orang yang percaya diri, namun tidak dengan orang sombong🙂

Beberapa proses pencapaian dan masih harus lebih baik lagi

Beberapa proses pencapaian dan masih harus lebih baik lagi

 

“post ini diikutsertakan dalam Blog Competition Serioxyl X IHB“

 

Shop N Drive Memudahkan Perjalanan Kami

Tag

, , , , , , ,


Sebenarnya ini bukan cerita saya, namun lebih tepatnya cerita kami bersama. Ketegangan ini terjadi dua bulan yang lalu. Bermula pada saat kami berlima, para mahasiswa yang ingin menghadiri acara pernikahan teman kami di Semarang, Jawa Tengah. Kami terdiri dari dua pria dan tiga wanita dalam satu mobil, yakni Didi, Eko, saya, Rina, dan Emi. Keberangkatan dijadwalkan hari sabtu dengan start dari rumah Didi. Kami berangkat dari Surakarta ba’da Isya menggunakan mobil Eko yang sudah terparkir di rumah Didi. Eko sengaja menyerahkan tugas menyetir pada Didi karena ia merasa lelah dan berjanji akan menggantikannya bila ia sudah merasa cukup beristirahat di dalam mobil.

Sepanjang jalan seisi mobil asyik mengobrolkan sesuatu yang berkaitan dengan acara pernikahan teman kami. Mulai dari busana, makanan, dan lainnya hingga kami para gadis , tidak sadar sudah sampai di Semarang. Riuh di tengah obrolan, tiba-tiba Didi menepikan mobil di pinggir jalan dekat pom bensin, tepatnya di bawah lampu neon berwarna oranye. Saya tidak tahu sedang berada di daerah mana karena saya bisa dibilang buta arah. Namun yang saya ingat, waktu itu jalanan sudah mulai lengang dan pom bensin yang berada tidak jauh dari poisisi kami diisi oleh para petugasnya yang hanya duduk-duduk santai menunggu pelanggan datang. Pada awalnya saya kira bensin habis dan mengajukan diri untuk berjalan kaki ke pom bensin untuk membeli bahan bakar, namun dicegah oleh Eko dan Didi. Katanya bukan karena bensin habis, tapi ada masalah lain. Didi pun membuka kap mobil dan memeriksa seluruh mesin yang ada di dalamnya.

“Kenapa nih?” tanya saya sambil melihat Eko dan Didi yang berdiri di depan mobil.

“Wah, accu-nya, Bro,” ujar Didi.

“Waduh! serius, Di?” tanya Eko pada Didi. Wajahnya terlihat tegang dan panik.

“Terus gimana dong? nggak mungkin kan kita sepanjang malem di sini?” saya kebingungan dan takut jika harus tiur di dalam mobil sepanjang malam.

“Rumah Budhemu masih jauh nggak, Di? kan kita nginep di sana.. kalau udah deket, mending kita minta tolong orang rumah Budhemu aja suruh ke sini bantuin kita,” kata Eko.

“Masih jauh, Bro!” jawab Didi.

“Eh, ini kenapa sih dari tadi nggak lanjut jalan?” sahut Rina yang turun dari mobil.

Aki-nya sekarat, Rin. Minta ganti nih kayaknya,” kata Didi.

“Oh, ini aja! telpon Shop&Drive, Kemarin mobil papaku juga mogok pas nganter aku ke kampus. Terus telpon mereka,” seru Rina.

“Lah, mobil papamu di Solo, sedangkan kita lagi di Semarang. Kamu nyuruh mereka buat ke sini, gitu?” tanya Eko dengan nada agak tinggi.

“Ya enggaklah! kan cabang mereka banyak, di Semarang juga ada. Udah, coba dulu aja! Percaya sama aku. Buruan telpon 15-000-15, tapi jangan aku. Hape-ku low bat,” kata Rina penuh percaya diri.

“Tapi ini udah malem, Rin!” tukas Eko.

“Halah, mereka 24 jam. Dah, jangan rewel, telpon aja dulu! Ngedumel nggak jelas juga nggak bikin mobil kita jalan!” Rina menimpali Eko.

gambar ilustrasi

gambar ilustrasi

Akhirnya, Eko menelpon nomor tersebut dan kami berdiri sambil mengobrol demi menghilangkan rasa khawatir yang berkecamuk di kepala. Tak lama kami menuggu, datang seorang pria lengkap dengan seragam merah putih dan box berukuran besar yang terpampang di atas motornya. 24 JAM GASTRA DELIVERY 15-000-15 Call Shop&Drive. Begitulah tulisan yang tertera di bagian muka samping box tersebut saya eja. Rupanya menurut penuturan Rina, Ayahnya juga menggunakan jasa Shop&Drive dan mendapat pelayanan yang cukup sigap dan cepat. Saya tidak paham apa yang pria tersebut lakukan, namun ia terlihat mengotak-atik mesin di bawah kap mobil. Tangannya cekatan sekali memegang mesin dan berulang kali muutnya meniupkan udara ke arah rerangka mesin.

“Dah, Mas. Ini korosinya cukup parah, tapi sudah saya bersihkan dan betulkan seluruhnya. Coba nyalakan mobilnya,” kata pria tersebut yang sudah menutup kap mobil.

Dengan perintahnya, Didi pun bergegas masuk ke dalam mobil.

“Iya, Mas. Sudah!” teriak Didi dari dalam mobil.

Alhamdulillah, akhirnya mobil kami sudah kembali normal dan dapat melanjutkan perjalanan menuju rumah Budhe Didi sebagai tempat menginap kami. Dengan pembayaran cash yang tidak mahal kami semua dibuat lega. Maklum, kami tidak membawa uang banyak waktu itu. Tapi, syukurlah tarif yang dikenakan sesuai dengan pelayanan dan penanganan yang diberikan.

Singkat cerita Rina mengetahui Shop & Drive melalui Ayahnya yang sering membawa mobil. Ia sudah dua kali menggunakan jasa mereka untuk masalah Accu dan belum pernah dibuat kecewa atas pelayanan yang disuguhkan. Petugas yang ramah dan cepat datang membuat sang Ayah mengandalkan Shop & Drive sebagai partrner pendukung dalam setiap pekerjaannya yang bersangkutan dengan sarana transportasi, terutama masalah accu. Itulah mengapa Rina juga mudah menghafal nomor layanan tersebut di luar kepala tanpa memeriksa ponselnya. Selain mudah diingat, ayahnya juga konsisten terhadap jasa tersebut.

Dari peristiwa ini saya berpikir bahwa jasa seperti ini memang sangat diperlukan, bahkan dalam waktu genting sekali pun, karena tanpa bantuan kinerja dari mereka maka bisa jadi perjalanan juga terhambat dan merusak susunan acara yang sudah dijadwalkan. Dalam waktu 24 jam berarti para pekerja dapat diasumsikan bekerja dengan merelakan diri penuh untuk pelanggan yang membutuhkan bantuan atau jasa mereka. Terbukanya cabang di banyak kota juga mempersempit jangkauan agar pekerjaan itu memudahkan bagi karyawan sendiri dan bagi pelanggan, sebab di mana pun keberadaan pelanggan, mereka bisa menelpon nomor yang sama tanpa mengubah kode area dan pelayanan tetap diperoleh. Jadi ya #GSAstraDelivery aja🙂

Selektif Memilih Event Menulis

Tag

, , , , , , , ,


Sudah pernah mendengar tentang ‘event menulis’? yakni sebuah acara menulis baik cerpen, artikel, cermin, cerbung, puisi, surat dan sejenisnya yang diselenggarakan oleh sebuah perusahaan penerbit atau penerbit pribadi maupun perorangan. Biasanya event-event tersebut diselenggarakan untuk menerbitkan buku baru yang memiliki tema tertentu. Nah, biasanya dalam event itu terdapat berbagai persyaratan dan ketentuan yang diajukan oleh penerbit. Mulai dari tag puluhan temen, temenan sama pj event, nge-like fanspage, sampai diharuskan membeli buku jika masuk menjadi kontributor atau pemenang event. Kita bahas satu per satu dulu yuk mengenai persyaratannya.

  1. Tag puluhan teman
    Jujur bagian persyaratan ini adalah yang paling bikin saya eneg, ogah, dan males. Kenapa? Pertama, saya tidak memiliki teman-teman menulis di dunia maya pada waktu itu. Namun sekarang sudah. Ya, meskipun hanya belasan saja. Kedua, proses tagging ini bisa jadi bumerang bagi kedua pemilik akun, baik yang di-tag dan men-tag. Facebook akan menganggap proses tagging tersebut sebagai spam dan dianggap mencurigakan(suspicious), maka jangan heran jika ada banyak akun penerbit atau PJ event yang diblokir oleh facebook karena mereka sendiri lah yang membuatnya. Solusinya, dari pihak facebook akan meminta verifikasi akun dengan menyertakan nomor KTP atau handphone. Kasus ini sudah terjadi pada beberapa penerbit serta PJ event. Namun, saya memaklumi hal itu, karena penerbit tentu menginginkan banyak yang ikut event-nya.
  2. Add PJ Event & like fanspage penerbit
    Pada bagian ini saya setuju dan justru malah senang, karena seorang PJ event akan meng-update para peserta dan mengumumkan siapa yang turut serta event dan pemenang atau kontributornya. Sedangkan menyukai fanspage penerbit juga penting, sebab kita mengikuti aturan main event dari penerbit tersebut, jadi supaya memudahkan kita dalam mengakses berbagai informasi lanjutan dari event tersebut ya dari fanspage-nya langsung. Lebih lagi kalau penerbit itu bakal mengadakan event baru lagi. Siapa sih yang nggak pengen uji nyali.. Eh uji coba kemampuan ding. Hehehe..
  3. Mengharuskan beli buku?
    Nah, ini yang harus diperhatikan. Jika suatu penerbit dalam mengadakan sebuah event dari awal mencantumkan kalimat seperti di bawah ini:

    “Pemenang dan kontributor yang terpilih diwajibkan membeli buku sebagai bentuk apresiasi”

    Kalimat di atas tidak akan menjadi masalah jika dari awal penyelenggaraan event sudah dicantumkan dalam poster atau keterangan dalam tulisan. Artinya, sejak dari awal membuka event, mereka sudah menuliskannya terlebih dahulu, sehingga para calon peserta yang ikut dapat menyiapkan diri antara mau ikut atau tidak. Kalau sekiranya nanti memiliki uang dan mampu membeli buku, maka ia sah-sah saja untuk ikut event. Tapi, jika tidak memiliki uang, maka ia harus mengurungkan niatnya mengikuti event itu. Nah, selanjutnya akan jadi bermasalah jika tidak dicantumkan dari awal dan baru tahu setelah diumumkan hasilnya melalui email atau pengumuman lanjutan. Kenapa begitu? karena itu sudah melanggar ketentuan atau pemberitahuan awal. Ibaratnya adalah kamu sudah bersusah payah menulis dan akan baru dihargai jika kamu sudah membeli bukunya. Seperti yang saya alami baru-baru ini. Sudah lolos dan masuk kontributor kemudian diharuskan membeli buku, jika tidak maka karya tidak akan dimasukkan ke dalam buku dan dikembalikan. Padahal jika dihitung atau diestimasi sebuah penerbit tentu akan mendapatkan keuntungan melimpah jika peserta yang lolos banyak dan harus membeli buku. Bahkan saya hitung dalam seminggu mereka dapat meraup untung 10 juta lebih. Namun, memang nasib penulis yang apes. Kontributor hanya dihargai sebuah e-sertifikat (itu pun ada penerbit yang mengharuskan membeli buku dari penerbit tersebut agar memperoleh e-sertifikat), sedangkan pemenang dihargai ratusan ribu rupiah saja, padahal mereka mendapatkan banyak uang. Bukankah kejam jika menamakan ini adalah dunia literasi? atau hanya mencari keuntungan dari para penulis? Coba pikirkan lagi jika kamu berhadapan dengan penerbit seperti ini ya guys🙂

  4. Biaya pendaftaran
    Untuk persyaratan ini saya antara setuju dan tidak setuju. Jika biaya yang dibebankan rendah, maka saya anggap itu wajar dan boleh jadi mereka menggunakannya untuk kepentingan acara—dengan catatan bahwa uang yang diberikan pada pemenang tidak diambil dari biaya pendaftaran. Sebab jika menggunakan cara seperti itu jelas tidak diperbolehkan—layaknya bermain judi, uang diputar dan diberikan kepada yang beruntung dan berhak. Beda persoalan jika uang tersebut berasal dari sponsor atau penyelenggara itu sendiri. Jika biayanya tinggi dan ternyata reward pemenangnya rendah, maka jangan sekali-kali mengikuti event seperti ini. Sudah jelas bahwa kamu hanya dimanfaatkan saja. Misalkan, sebuah penerbit atau komunitas menyelenggarakan event menulis, mereka membuka biaya pendaftaran 100.000, dan juara terbaik mendapatkan 1000.000. Nah, dalam kasus ini sebaiknya dihindari saja, sebab masih banyak event berbobot yang lebih menghargai karya kamu.

Dari persyaratan di atas sudah jelas, maka kita akan beralih pada perolehan juara atau reward.

Sebuah penerbit dalam acaranya tentu akan memberikan ketentuan atau persyaratan dibarengi dengan hadiah atau reward. Kalimat yang biasa akan kalian jumpai adalah sebagai berikut:

“Juara pertama hingga ketiga akan mendapatkan buku terbit+voucher penerbitan+uang tunai+e-sertifikat”

“Seluruh kontributor yang terpilih akan mendapatkan e-sertifikat”


“Juara pertama hingga ketiga akan mendapatkan buku terbit+voucher penerbitan+e-sertifikat”

Untuk penerbit yang mencantumkan kalimat di atas, kalian luar biasa. Saya suka dan setuju. Penghargaan semacam itu sangat penting bagi para penulis, baik pemenang dan kontributor. Sebab, pemilihan yang terbaik berasal dari pemikiran subjektif PJ event atau penerbit, sehingga hadiah di atas cukup adil, baik bagi para pemenang atau kontirbutor saja.

Lalu, bagaimana mengenali penerbit yang matrealistis dan cenderung memanfaatkan sisi penulis?
Sebelumnya saya katakan bahwa wahai kalian penulis, ide kalian sangat-sangat berharga, bahkan MAHAL. Tulisan kalian berharga. Waktu serta pikiran kalian berharga. Mulailah dengan cara menghargai karya yang kalian tulis dengan cara membiarkan orang lain menghargai karya itu. Dengan apa? dengan memberikan kalian sebuah penghargaan, meskipun itu hanya dalam bentuk e-sertifikat. Namun jika E-sertifikat saja kalian tidak mendapatkannya padahal masuk menjadi kontributor penulis dan diharuskan membeli buku, maka kalian sedang dalam posisi dimanfaatkan. Tulisan kalian dijadikan sebagai mesin pencetak uang, dan kalian adalah objek yang menguntungkan.
Pertama, sebuah penerbit tentu akan mengambil keuntungan dari buku yang diterbitkan. Dalam buku tersebut terdapat tulisan-tulisan indah kalian yang sudah susah payah diceritakan melalui kepingan huruf keyboard, melalui pikiran dan niat yang tulus ingin menjadi penulis, dan dapat disebut sebagai sebua karya, yang In Sya Allah suatu saat dapat menjadi Mega karya. Buku yang sudah diterbitkan oleh penerbit akan dipromosikan dan diperjualbelikan pada khalayak umum, terutama bagi mereka yang hobi membaca. Selama buku itu terus terjual laris, maka keuntungan akan terus masuk. Nah, sedangkan kamu yang menulis dapat apa? cobalah untuk berpikir ke sana.. meskipun kamu masih seorang anak remaja sekali pun yang gemar menulis.

Kedua, mendapatkan e-sertifikat dengan catatan harus membeli karya atau salah satu buku dari mereka. Jelas, ini pemerasan tanpa paksaan. Kamu sudah menulis dan menjadi bagian kontributor, maka kamu layak dihargai bahkan hanya dengan secarik e-sertifikat. Jika itu saja tidak kamu dapatkan, lebih baik jangan lagi ikut event dari penerbit sejenis itu. Kamu sedang dibodohi dan ditertawakan.

Kedua ciri di atas merupakan bentuk matrealistis dari penerbit dan mereka hanya berpikir dari sisi keuntungan, bukan benar-benar memajukan dunia literasi. Kamu adalah seorang pioneer maka carilah tempat berteduh yang baik dan memiliki kredibilitas dalam berkarya🙂

#salamliterasi

Cara Memandang Sebuah Pekerjaan

Tag

, , , , , , , , , , , ,


Pernahkah kamu merasa dijatuhkan atas pekerjaanmu padahal jika dilihat dari sisi agama pun tergolong halal? Apakah pekerjaanmu menyumbangkan banyak manfaat bagi orang lain atau kamu hanya berpikir bahwa pekerjaan menjadi alat untuk menafkahi keluarga tanpa embel-embel lain? Barangkali saya berada di posisi seperti itu. Entah apa yang membuat seseorang berkata “kamu itu pinter, tapi sayang sekali kalau hanya jadi seorang penonton dan komentator saja. Kamu harus jadi pemeran utamanya”. Pernyataan itu bagaikan petir di siang hari yang membuyarkan kehadiran cita-cita saya untuk menjadi seorang penulis. Ya, Ia mengatakan demikian karena saya berujar atas pertanyaan yang ia tujukan malam itu tentang pekerjaan saya─bahwa pekerjaan masa kini adalah sebagai blogger dan penulis di beberapa media. Apakah pekerjaan ini tak bermanfaat dan menjadikan seseorang berada di level rendah? Padahal selama ini, saya memandang bahwa seluruh pekerjaan itu berisiko. Memiliki manfaat dan mudharatnya.

Selama ini pula saya memandang bahwa passion terbesar yakni menulis, menulis, dan menulis sebagai perjalanan menggapai mimpi. Mungkin memang terkesan mustahil dan tidak secerah keberhasilan orang lain pada umumnya, namun saya meyakini bahwa perkataan seperti di atas bisa jadi adalah motivasi, namun sekaligus pukulan telak. Saya membayangkan diri ini hanya diam tidak menulis, berkomentar dan lain-lain seperti mayat hidup. Jika semua orang menjadi pemeran utama lalu siapa para pendukung dan tim lainnya? Saya pun punya mimpi yang dapat dibilang cukup ekstrim. Banyak sekali mimpi itu dan baru tercapai satu. Untuk mencapai mimpi tentu tidak mudah. Sulit sekali bayangan saya, bahkan hingga kini. Saya hanya anak kampung yang merangkak ke kota untuk sebuah mimpi. Modal saya hanya tidak takut untuk bersuara selama tidak melanggar peraturan Negara, apalagi peraturan Tuhan. Belum cukup sampai di situ, Ia mengatakan lagi bahwa jangan menjadi orang yang idealis”Untuk ini saya akui, bahwa saya memang memiliki idealisme sendiri dalam memandang suatu permasalahan yang kadang juga berbeda dengan orang lain, tapi saran, masukan, nasehat tetap saya terima asal dibeberkan ke dalam bentuk diskusi yang sehat. 

Ia menyarankan saya untuk menjadi guru karena pekerjaan di luar itu seolah sayang sekali, atau berada di level yang tidak sebaik Guru. Saya orang awam yang hingga saat ini masih terus membantu menyuarakan hak-hak dan kewajiban Guru. Namun, rupanya saran beliau seakan memaksa saya untuk menjadi seorang guru, sama sepertinya dan Ibu. Jujur dalam hati membatin, saya juga ingin mencerdaskan anak-anak bangsa, mengangkat pendidikan di berbagai desa atau wilayah pelosok dan sejenisnya. Demikian mimpi saya yang lain. Apa daya, untuk meraih itu semua dibutuhkan usaha yang tidak main-main. Terutama persoalan biaya. Di samping itu, ada banyak beban yang harus saya pikul agar pendidikan adik-adik saya dapat terus berjalan tanpa merasakan putus sekolah─dan saya pun masih mengusahakannya hingga sekarang.

“Apa pun yang bisa kamu lakukan, yang bisa kamu raih.. lakukan!” kata Ibu sambil duduk jongkok di samping saya. Semangat dari Ibu lebih berharga dan senantiasa menjadi pelipur lara di kala saya terjatuh. Katanya, jangan sering mendengar perkataan orang, karena belum tentu mereka menyokong seseorang berdiri namun justru membuat ragu dalam melakukan sesuatu sesuai passion. Saya percaya, Ibu lebih memahami putrinya dibanding orang lain karena kedekatan saya dengan Ibu memang bisa dikatakan hampir tidak ada batasan.

Jika diuraikan, seorang penulis dan blogger boleh dikatakan juga termasuk bagian dari lampu penerang di kegelapan bagi banyak orang. Tentu tergantung apa yang dituliskannya dalam sebuah website atau forum hingga media sosial. Padahal, seorang penyanyi juga berkomentar dan menuangkan pikirannya dalam sebuah lagu. Seorang penyair menjadi seorang bintang dalam sajak-sajak indahnya. Lalu apakah semua pekerjaan harus dipandang layaknya kasta? Pekerjaan ini lebih baik dibandingkan itu. Pekerjaan ini nilainya lebih besar dibandingkan yang lain. Hal tersebut justru membuat saya berpikir bahwa pekerjaan yang dinilai berkasta oleh orang lain tak harus ditampakkannya dalam sebuah kalimat atau penghasilan. Boleh jadi pahala atau ridha Allah berbeda dengan pekerjaan yang selama ini kita anggap besar, mewah, bermanfaat banyak bagi orang lain. Sekali lagi, pengalaman ini membawa saya untuk berusaha lebih keras─dengan cara saya sendiri.

Saya pikir, ada yang aneh jika menjadikan tolak ukur kepandaian seseorang dengan profesi yang ia tekuni. Seperti misalnya, seorang pria yang pandai seharusnya ia menjadi dokter, bukan salesman sebuah perusahaan. Padahal tanpa salesman, kinerja perusahaan juga tidak berjalan semestisnya. Tidak sesuai dengan struktur yang telah ditetapkan. Posisi itu tidak penting bagi kebanyakan orang, karena memang dogma tentang kasta profesi sebuah pekerjaan sudah mendarah daging bagi orang di negara ini. Kata Tante saya yang tinggal di London bersama suaminya─Seorang pengamen di London tidak dianggap rendah, mereka bahkan memberikan suguhan yang berkualitas melalui musik (padahal pakaian mereka juga terlihat agak lusuh). Tidak hanya pengamen, bahkan pelukis jalanan menunjukkan seni kreatifitasnya yang tinggi. Semua orang memandanginya diikuti sorakan riuh dan iringan tepuk tangan. Namun, Tante memberikan pandangannya bahwa itu dikarenakan mereka tinggal di London dengan kebiasaan dan cara pandang orang yang luas. Jika mereka dipindahkan ke Negara lain juga belum tentu mendapat sambutan yang sama atau perlakuan yang sama (terutama di Indonesia), karena cara kita memperlakukan dan memberikan sudut pandang terhadap pekerjaan sudah berbeda dan dingin.

Pengamen di Negeri ini sudah biasa dianggap tidak memberikan manfaat karena mereka juga tidak memiliki ruang dan sasaran yang tepat untuk menunjukkan kemampuannya. Ini terbukti dari banyaknya pengamen yang mengikuti audisi bernyanyi di sebuah kompetisi musik sebagai ajang untuk mereka menunjukkan kemampuan dan menggapai mimpi. Lucu bukan? seorang pengamen juga memiliki mimpi. Apalagi seorang penulis amateur seperti saya? Mereka pengamen, biasanya bernyanyi di dalam bus, menyambangi perumahan, bahkan masuk ke pasar-pasar tradisional. Sungguh area yang tidak tepat dan hanya akan dianggap sebagai pengganggu. Kira-kira begitulah anggapan khalayak umum.

Contoh peristiwa di atas bisa menjadi pembelajaran kita bahwa suatu pekerjaan bisa jadi menjadi batu loncatan, bisa jadi sebuah passion, dan bisa jadi karena tekanan dari berbagai situasi dan pihak lain. Tak selayaknya kita menghakimi suatu profesi dan menyudutkan seolah pekerjaan mereka sia-sia selama itu tidak merugikan orang lain atau melanggar ketentuan yang berlaku. Bahkan di Islam sudah diajarkan untuk berkata baik atau diam. #SalamLiterasi

 

Disabilitas Bukan Hambatan Untuk Tidak Cantik

Tag


Pernah mendengar tentang disabilitas? Ya, disabilitas merupakan keterbatasan fisik seseorang yang membuatnya tidak dapat melakukan berbagai aktivitas secepat orang normal lainnya. Mereka perlu mengeluarkan tenaga lebih jika ingin menyelesaikan suatu pekerjaan. Kira-kira begitulah kondisi yang dialami oleh Tante saya bernama Murni. Penyakit polio yang menyerang tubuhnya di usia muda membuat kaki kirinya tidak dapat berjalan beriringan dengan kaki kanannya. Belum lagi, masih teringat lekat di kepala saya, tiga tahun lalu suaminya meninggal akibat sakit keras dan tinggal lah ia seorang diri merawat buah hatinya, Frilia. Barangkali Tuhan sudah memutuskan takdir bagi Tante saya sedemikian rupa. Penuh ujian dan harus menjadi single parent bagi putri semata wayangnya itu.

Tante dan Buah Hatinya

Tante, Frilia, dan~eh ada yang nyempil satu lagi (keponakan yang lain).

Di usia beliau yang kini hampir mendekati 40 tahun, ia masih tetap produktif sebagai seorang disabilitas. Seluruh waktu yang diberikan Tuhan, beliau habiskan untuk mengurus buah hati dan menjahit. Ya, pekerjaan yang ia tekuni sedari dulu hingga kini adalah menjahit. Tak jarang saya sering memintanya untuk membuat sepasang baju guna menghadiri acara pernikahan, lebaran, dan lainnya. Setiap minggu kami sekeluarga bergiliran mengunjunginya sekadar memastikan apakah kesehatan ia dan putrinya baik-baik saja. Namun, niat kami ini memang sering meleset dari apa yang dipikirkan oleh Tante saya. Ia justru sering mengajak diskusi saya masalah kecantikan wajah, cara membuat kulit agar nampak lebih halus dan muda.. yah pokoknya hanya berkutat di situ terus.

Menurut Tante saya, untuk menunjang kecantikan memang dibutuhkan segelintir usaha baik dari dalam atau pun dari luar, toh jika fisiknya tidak sempurna bukan berarti tidak ada kecantikan dalam dirinya yang tidak bisa ia lukiskan. Pasti ada.

“Cara menjadi cantik adalah menemukan kedamaian terlebih dahulu dalam jiwa agar seluruh sendi dalam tubuh dan otot wajah tidak mudah rusak sehingga ditemukan ‘sesuatu’ yang kita sebut sebagai cantiknya wanita,” ujar Tante saat berhadapan dengan cermin di samping meja mesin jahitnya. Saya hanya mendengar dan manggut-manggut.

Jujur, sebenarnya saya merasa aneh dengan penuturan beliau, yang kalau dipikir ulang kalimat itu terasa njlimet sekali di kepala. Membuat saya meracau pusing tujuh keliling. Acapkali saya sendiri bingung mencari makna kalimat tersebut. Namun, setelah mengobrol panjang lebar dengannya, lambat laun saya sedikit memahami bahwa memang ada pesan yang ingin disampaikan oleh Tante saya terkait #UsiaCantik tersebut. Awalnya ia merasa minder  dan frustasi karena dipandang sebagai sosok wanita disabilitas. Banyak orang menilai bahwa disabilitas mematikan seluruh kelebihan yang dimiliki oleh Tante saya, yang notabene merupakan sosok perempuan berusia 39 tahun.

“Disablitas tidak akan memangkas kecantikan seorang wanita meskipun berusia puluhan tahun, jika ia mampu memelihara sumber kecantikannya,” celoteh Tante saya. “

“Hah? sumber kecantikan? apa lagi itu,” batinku. Penuturan pertamanya saja saya masih belum seluruhnya paham, sekarang sudah ada slogan kedua. Saya makin bingung, mungkin karena ia sudah berusia matang dan memiliki perspektif berbeda soal #UsiaCantik. Dari apa yang telah kami perbincangkan, saya berusaha menangkap pesan dan penjelasan oleh Tante saya mengenai #UsiaCantik.

Pertama, sebagai wanita dewasa dan berjalan melangkah ke usia yang makin menua, maka harus lebih produktif dengan apa yang ingin dibangun oleh diri sendiri. Artinya, hinaan dari orang lain tentang disabilitas tidak ada yang cantik itu salah dan ia membuktikannya. Ia berusaha tidak menanggapi celaan atau perkataan negatif dari masyarakat. Sebaliknya, ia fokus menemukan kedamaian dalam diri sendiri sehingga mampu menjadi apa yang ia harapkan. Lelahnya menapaki hidup menjadi seorang penjahit tidak membuat wajahnya mudah menua akibat dimakan waktu. Apapun yang ia lakukan berkat kedamaian yang ia ciptakan dalam sendiri. Karena saat mencapai titik kedamaian, maka seluruh sendi dan otot tubuh tidak akan tegang, terutama bagian wajah. Tidak heran, saya melihat di usianya yang berada di kepala tiga, kecantikannya semakin menebarkan aura berbeda. Kulit Tante saya bahkan halus dan tidak banyak keriput yang muncul. #UsiaCantik yang ia tunjukkan cukup mengesankan dan mudah ditangkap oleh kasatmata.

“Mbak Murni kok tambah cantik saja, ya?” kata seorang pelanggannya yang sering datang ke rumah saat saya berada di sana. Lantas Tante hanya tertawa dan menahan rasa malu. Tidak hanya itu, bahkan kini ada seorang pria yang ingin mendekatinya. Ouch, Good Job, Tan.

Kedua, Sumber kecantikan itu letaknya dari dalam dan dari luar. Dari dalam, menyangkut bagaimana kita seorang wanita menghadapi berbagai situasi sulit, memperlakukan diri sendiri hingga mampu berkembang menjadi tokoh yang lebih bermanfaat bagi orang lain.  Sementara dari luar adalah disediakannya beberapa produk perawatan yang dapat menunjang kecantikan fisik. Dua-duanya dilakukan oleh Tante saya dan diterapkan dalam kehidupannya sehari-hari. Tidak peduli seberapa lelah menghampiri, yang namanya merawat diri itu harus didisiplinkan agar menjadi kebiasaan dan mampu menghadirkan #UsiaCantik seperti harapannya.

Sekarang #UsiaCantik Tante, ia mantapkan diri untuk mengikuti berbagai kegiatan lain seperti seminar handcraft dan pelatihan khusus bagi disabilitas, tentu ia juga masih aktif menjahit sebagai bentuk kecintaannya terhadap dunia tersebut. “Semakin kita memfokuskan diri menjadi seorang wanita dewasa yang matang untuk membenahi kehidupan, maka semakin cantik pula kita di hadapan khalayak umum juga Tuhan,” tambahnya malam itu.

Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L’Oreal Revitalift Dermalift.