Kisah Pemulung Tanpa Nama Di GOR Diponegoro Sragen

Tag


Pagi-pagi sekali aku ditugaskan ibu untuk mengantarkan adikku yang paling kecil ke GOR Diponegoro dalam rangka mengikuti latihan fisik jelang turnamen futsal. GOR Diponegoro merupakan gedung olahraga yang terletak di kota Sragen, digunakan untuk latihan atau pertandingan olahraga tertentu. Gedung itu pun cukup luas dilengkapi dengan taman bermain di depannya. Pepohonan rindang juga tumbuh lebat mengelilingi seluruh sisi luar bangunan itu hingga membuatku ingin berlama-lama duduk di bawahnya.

Berbekal air minum dan satu kantung snack, aku duduk santai sembari mengamati adikku yang sedang berlatih bersama teman dan gurunya. Sesekali kualihkan pandanganku ke arah lain─setiap sudut kuamati secara saksama. Di bagian barat taman, ada penjual aneka makanan kecil sedang asyik mengobrol dengan dua orang pengunjung. Di serambi mushola, nampak pedagang burger dan siomay tengah merebahkan badan, mungkin mereka mengantuk karena menunggu pembeli. Tidak jauh dari mushola, tampak seorang ibu sedang menyuapi buah hatinya makan. Lalu, di belakang mereka, ada seorang kakek tua yang sedang tidur meringkuk di atas ayunan. Dari seluruh aktivitas pengunjung di taman GOR, hanya beliau yang mampu membuatku mematung beberapa detik. Ia tidur sambil menutupi wajahnya dengan topi kumal berwarna biru. Karena penasaran, akhirnya kulangkahkan kaki menghampiri beliau. Namun, belum sampai setengah jalan, tiba-tiba kakek itu terbangun dari peraduannya. Tidak seperti orang-orang pada umumnya ketika bangun harus duduk sebentar, ia langsung berdiri dan berjalan sempoyongan memungut botol-botol bekas di sekitar ayunan. Aku juga sedikit heran dengan kondisi taman pada hari itu. Jelas-jelas ada banyak tempat sampah yang diletakkan di bawah pohon, tetapi  beberapa orang memilih membuang sampah sembarangan.

Kakek itu pun memunguti satu per satu botol bekas yang berserakan di atas paving, lalu ia tekan botol-botol itu agar sisa air yang berada di dalamnya menyembur keluar. Kudekati beliau tanpa berniat menganggu pekerjaannya. Setelah kuterawang, ternyata bukan jalannya yang sempoyongan, namun salah satu kondisi kakinya memang tidak dapat berjalan normal sehingga membutuhkan tenaga ekstra untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Meskipun begitu, aku tidak melihat ada rasa keberatan atau putus asa dari guratan wajahnya. Ia pun memasukkan sampah yang dipungutnya ke dalam keranjang bambu yang menggantung di atas sepeda tuanya. Anggap saja begitu. Aku juga bingung memberikan nama apa tempat yang beliau gunakan sebagai wadah, namun orang di Jawa menyebutnya sebagai ‘bronjong’.

“Lelah juga jalan ke sana ke mari kayak anak ilang begini,” gumamku pelan. Tak mau terus berdiri, aku pun meluyur menuju ayunan yang berada di dekatku─ayunan yang sempat digunakan kakek itu untuk melepas lelah.

“Tidak apa-apa, Mbah. Duduk sini,” seruku pada kakek itu yang terkejut saat membalikkan badan melihatku duduk di atas pembaringannya. Ia pun perlahan berjalan mendekat dan tak lama, sosok itu sudah duduk di hadapanku. Kami duduk berhadapan, bertatap muka satu sama lain.

“Mbah, sudah lama di sini?” tanyaku penuh rasa berani.

“Sudah,” jawabnya singkat.

“Rumahnya di mana?”

“Rumah saya di S-Mulyo, Mbak,” kata beliau sambil jarinya menunjuk-nunjuk ke arah utara.

“Ow.. tinggal dengan siapa?” aku melanjutkan bertanya.

“Bersama istri saja,”

Lha istrinya kerja apa, Mbah?”

“Istri saya jualan jamu, Mbak,”

“Jualan di mana? Di rumah atau di mana?”

“Jualan jamu keliling jalan kaki, Mbak,”

“Begitu toh…” aku manggut-manggut mendengar jawaban kakek itu. Ia hanya menjawab seluruh pertanyaanku tanpa basa-basi. Bahkan beberapa kali keadaan hening, bibirku juga bergeming sejenak karena ia tidak bertanya kembali padaku.  Kepalaku serasa diperas, memutar pertanyaan yang bisa memancing beliau untuk berkisah. Setidaknya pagiku tak terbuang sia-sia dan ada hikmah yang dapat kuambil pelajarannya dari beliau. Begitu pikirku.

“Emm.. Mbah, dari pagi sudah di sini?” tanyaku lagi.

“Iya, Mbak. Kalau Mbak, orang mana?” aku terkejut. Ini baru pertama kalinya ia bertanya, meski hanya seputar rumah, tapi aku sudah sangat senang.

“Saya orang Sidoharjo, Mbah. Jauh dari sini,” aku melemparkan senyum tipis padanya.

“Oh Sidoharjo! Ke arah barat terus berarti daerah Nggrompol ya? Itu tempat asal istri saya.

“Wah! Sama, Mbah. Buyut saya juga rumahnya Nggrompol,” aku tersenyum lebar menyambut ucapan kakek itu.

“Ke sini ngapain?” Kakek itu mengerutkan dahi.

“Ini, Mbah.. nganter adek saya yang bungsu latihan fisik buat futsal nanti hari kamis. Itu anaknya sedang lari-lari,” aku menoleh, menunjuk sekumpulan anak-anak yang sedang berlari mengelilingi GOR.

“Ya.. ya.. ya.” Kakek itu menganggukkan kepala.

“Mbah, punya anak?”

“Punya, Mbak. Anak saya yang perempuan jadi pembantu di Batam, kalau yang laki-laki di Sulawesi berjualan merica,”

“Kalau cucu?”

“Cucu ada lima, tapi semuanya ikut anak saya,”

“Oh begitu, lha terus kenapa Embah mungutin botol-botol itu?” pandanganku melirik ke tumpukan botol yang berada di atas keranjang bambunya.

“Itu?” beliau menoleh ke belakang, melihat dengan cepat sekumpulan botol yang telah dipungutnya.

“Iya, Mbah,”

“Kalau nggak gitu, saya mau makan apa, Mbak?”

“Emm, memangnya satu kilo bisa dapet uang berapa, Mbah?” aku menghela napas dan bertanya kembali.

“Satu kilo dapet seribu lima ratus, Mbak,” ia menatapku nanar.

“Hah? Satu kilo hanya dihargai seribu lima ratus?” sontak aku girap-girap mendengar jawabannya. Harus berapa banyak lagi botol yang ia kumpulkan hanya demi sesuap nasi untuk ia dan istrinya? Aku mencoba meneruskan pertanyaanku.

“Itu kan sudah banyak, Mbah. Kenapa ndak dijual saja?”

“Mbak, itu belum ada satu kilo!” sergahnya kala itu, seolah ia tidak terima mendengar pertanyaanku.

“Masih berapa banyak lagi, Mbah?”

“Banyak,” ia menggelengkan kepala berulang kali.

“Oh.. Mbah, sudah sarapan?” aku penasaran sejak pertama melihatnya, karena masih pagi buta ia sudah berada di GOR dan dalam keadaan tidur meringkuk.

“Belum, Mbak. Mau makan pake apa?” tanya Kakek itu seraya menundukkan kepala.

“Itu banyak pedagang, Mbah,” aku melirik beberapa pedagang yang masih sepi pembeli.

“Saya belum dapat uang untuk makan, Mbak. Saya juga tidak mungkin memelas minta makan sama mereka. Kalau saya belikan uang yang masih sedikit ini, saya kasihan dengan istri di rumah,” Beliau pun membenamkan wajah. Suaranya sedikit parau.

“Ya Allah.. Mbah, tunggu di sini ya. Jangan ke mana-mana!” pintaku padanya.

Melihatnya belum makan, aku berinisiatif untuk mencari warung di sekitar area GOR, namun belum ada yang buka. Mengingat perjuangannya mengais rejeki tanpa mau meminta, aku juga semangat berjalan agak lebih jauh, yakni menembus jalan raya. Aku menyisir setiap warung di pinggir jalan dan hanya ada satu yang masih buka, itu pun bahan-bahannya sudah hampir habis dan tinggal sedikit. Ya, nasi pecel dengan tahu goreng sebagai pelengkap lauk.

“Ini, Mbah! Dimakan ya?” aku menyodorkan sebungkus nasi yang dibalut dalam kantung plastik belang-belang.

“Makasih, Mbak,” ujar Kakek itu. Ia menerima, namun tak langsung memakannya. Sepertinya malu.

“Ya sudah, saya pergi dulu kalo gitu, Mbah,” aku berpamitan padanya lantas pergi meninggalkan ia seorang diri. Aneh memang, selepas kepergianku ia baru mau memakan makanan itu. Kuamati dari jauh, tangannya sibuk memasukkan kepalan nasi ke dalam mulut.

Kisah ini memang tidak terlihat mengenaskan seperti di luar sana, namun aku belajar dari beliau bahwa meminta bukan jalan untuk mendapatkan belas kasih. Beusahalah, maka Allah akan memberikan pertolongan melalui orang lain yang tidak akan pernah kita duga-duga. Meskipun fisiknya tak terlalu sempurna, ia masih berjuang mengais rejeki serta memikirkan istrinya di rumah. Ia masih semangat mencari nafkah tanpa meminta-minta. Baginya pekerjaan sebagai pemulung tidak seberapa, tapi kehalalan akan lebih bernilai di mata Tuhan dibandingkan tidak  melakukan usaha apapun, apalagi membohongi orang-orang. Terima kasih, Kakek─tanpa nama.

Baju sengaja saya blur karena berkaitan dengan pemilihan suatu partai hehe

Baju sengaja saya blur karena berkaitan dengan pemilihan suatu partai hehe

Kondisi GOR ketika pai hari (arah timur)

Kondisi GOR ketika pai hari (arah timur)

By Anisa KautsarJuniardi  #ParaPencariCahayaKehidupan

Gekikara Ramen: Enak Yang Kuah Atau Goreng?

Tag

, , , , , , , , , , ,


.Ini adalah kesan saya setelah bertemu dan makan Gekikara Ramen. Sebenarnya sih, saya juga tidak tahu kenapa dinamakan Gekikara Ramen. Barangkali karena memiliki cita rasa pedas dan nendang seperti karakter para tokoh yang ganas, beringas, dan kerap menindas layaknya film dorama jepang yang sempat dibintangi oleh Rena Matsui dan kawan-kawannya itu. Gekikara ramen sendiri merupakan mie instan yang diproduksi oleh Nissin Foods Indonesia dengan menggunakan teknologi canggih dari Jepang dan masih dibilang baru di kalangan pecinta mie. Meskipun tak seterkenal mie lain, namun produk Nissin cukup membuat para penikmatnya tak terlalu kecewa dan masih bisa menjangkau harga mie di pasaran. Hal ini karena sang pendiri, bernama Momofoku Ando memiliki prinsip, “Dunia damai kalau semua orang cukup makan“, “Makan yang benar membuatmu cantik dan sehat“, dan “Produksi makanan adalah melayani rakyat“. Dari prinsip tersebut, beliau mulai bereksperimen dan menciptakan serta mengembangkan produk mie ini.

photo by Nissin

photo by Nissin

Pertama saya makan gekikara ini, jujur kaget dengan rasanya. Tidak membuat tenggorokan kering dan eneg di perut. Beda juga dengan mie lain yang biasa saya makan.

Dari segi bumbu:

Bumbunya sangat sederhana, hanya ada dua bungkus yang terdiri dari satu bungkus bubuk cabai khas ramen serta satu bungkus berisi dry toping (daun bawang, wortel, dan jamur kering). Bumbunya pun tidak harus semuanya dimasukkan atau dicampurkan ke dalam mie, sebab kita bisa menakarnya sendiri sesuai dengan selera masing-masing. Saat menginginkan kepedasan yang lebih, maka bumbu bisa dimasukkan seluruhnya. Jika tidak, maka bisa setengah atau seperempatnya saja. Sisa bumbu dapat dimanfaatkan untuk membuat seblak dan makanan lain.

Dari segi mie

Mie gekikara ini berukuran lebih besar dan kenyal dibandingkan mie lain. Takarannya juga lebih banyak (Ya iyalah ya, harga aja lebih mahal haha). Waktu itu saya mencoba menjadi manusia yang tak sabaran karena penasaran mencoba sampai-sampai mentahnya pun saya cicipi. Dan lagi, saya kaget. Untuk mie mentah, gekikara ini enak. Tapi ya saya hanya nyuil sedikit karena hanya anak-anak 90-an saja yang makan mie mentah harga maratusan haha.  Takarannya juga lebih banyak dan membuat perut kenyang.

Harga

Untuk harga, beda minimarket maka beda pula harganya. Hal ini saya dapati saat saya membeli di dua minimarket yang berbeda. Minimarket pertama, saya beli dengan harga promo Rp 4800,00 dan harga normal Rp 5800,00. Sedangkan, di minimarket lain harganya Rp 5000,00.

Dari seluruh aspek Gekikara terbilang cukup lezat dan tidak mengecewakan. Untuk rasa kuah pedas dari angka 1-10, maka gekikara ramen memiliki level 3. Cocok untuk yang tidak terlalu betah memakan makanan pedas. Soal halal jangan ditanya, dari depan sudah kelihatan ada label MUI-nya. Oh, iya gara-gara ramen kuah satu ini, Ibu dan satu keluarga juga suka. Terlebih ibu, padahal makan mie lain biasanya tidak akan tahan karena rasanya yang terlalu gurih dan membuat perut eneg, tapi tidak dengan gekikara ramen. Bahkan ibu membeli hingga empat bungkus sekaligus untuk persediaan di rumah saat hujan turun. Tidak hanya ibu, kakak perempuan saya juga ikut-ikutan membeli gekikara ramen kuah ini. Karena mereka tidak semaniak saya yang suka pedas, tapi tetap bisa makan bersama. Satu bungkus gekikara ramen kuah juga bisa dimakan enam orang lho. Caranya adalah masak gekikara ramen dengan ditambahi isian sayur seperti sawi putih, wortel, kubis,  serta telur sehingga satu panci penuh dapat disantap bersama. Hanya satu bungkus dapat dimakan enam orang. Awet bukan? hehe

Eits, Gekikara ramen juga tersedia versi gorengnya. Baru saja kemarin saya melihatnya di minimarket dekat GOR Diponegoro Sragen dan tak pikir lama, akhirnya saya tarik juga mie tersebut dari rak. Ini dia penampakannya

photo by AnisaKJ

photo by AnisaKJ

Awalnya saya kira itu bulgogi hehe, tapi bukan. Harganya agak lebih mahal dari versi kuahnya, yakni Rp 5600,00. Tampilannya sangat menarik mata ya, hehe. Pinter nih yang bikin.

Dari segi bumbu

Ada tiga bungkus bumbu yang ada di dalam kemasan gekikara ramen versi goreng ini. Pertama, bumbu minyak yang kental yang terdiri dari minyak nabati, atsiri paprika dll. Kedua, bumbu serbuk dan cabai. Ketiga, dry toping yang sama dengan versi kuahnya. Di belakang kemasan komposisi bumbu sangat jelas terbuat dari bahan apa saja serta terperinci.

Dari segi mie

Untuk mie mungkin tidak beda jauh dari yang kuah ya, tetap kenyal dan ukurannya agak sedikit lebih kecil. Namun takaran tetap sama banyaknya.

Dari seluruh aspek, gekikara ramen goreng ini tidak sepedas yang versi kuahnya. Jika diberikan level 1-10, maka ia mendapat level 2 alias tidak pedas sesuai dengan bayangan saya. Jadi tolong dong, Pak.. cabainya dibanyakin haha. Menariknya adalah di belakang kemasan, ada dua tata cara pengolahan. Yakni ala Jepang dan ala Indonesia. Saya memilih memasak ala Jepang, biar jejepangan gitu, hehe. Memasak ala Jepang rupanya cukup cepat dibandingkan versi Indonesia, karena hanya menggunakan 250ml air dan tuangkan semua bumbu, lalu tunggu sampai air menguap dan kesat. Ingat, untuk memasak ala Jepang gunakan wajan ya, jangan panci. Nanti hangus lagi pancinya, hehe.

photo by AnisaKJ

photo by AnisaKJ

Tapi untuk cita rasa tetap unik. Enak dan gurih. Nggak nyesel juga meski nggak pedes, kan masih bisa saya tambah dengan cabai rawit asli yang warnanya merah menyala. Kalau kurang, bisa gunakan cabai bandot khas Dieng atau Bandung, dijamin dah, puedeesss bangat… Saya pun menghidangkannya dengan tambahan telur cah dan irisan kubis.

photo by AnisaKJ

photo by AnisaKJ

Kalau disuruh pilih, tergantung suasana dan selera. Kuah enak dan goreng pun juga enak. Tapi lebih enak lagi kalau dapat gratisan dari Nissin hehe.

Mampir Ke Solo? Nggak Ada Salahnya Coba Mie Gajah Emas

Tag

, , , , , , , ,


Solo sudah sejak dulu dikenal sebagai kota wisata budaya dan menjadi kota yang cukup ‘Ngangeni’ di kalangan masyarakat. Tidak hanya itu, Solo juga kaya akan kulinernya lho! Aneka jajanan di Solo pun tergolong murah jika dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Dari harga dua ribu rupiah hingga ratusan ribu pun dapat dijumpai di kota Solo dengan mudah. Termasuk salah satu Mie Gajah Emas satu ini yang cukup membuat perut saya kenyang bukan main.

Kedai Mie Gajah Emas terletak di depan Tugu Pasar Gede, kanan jalan jika ambil jalur dari Panggung Motor. tepatnya dari belakang UNS lurus—ketemu panggung motor—ambil jalur kiri—lurus dan sampai di Tugu Pasar Gede—Kanan jalan (pojok). Jangan kaget jika sampai di tempat harus rela antri hingga berjam-jam, karena makanan berbahan mie ini memang dari segi rasa cukup menggoyang lidah dan porsinya tidak akan mengecewakan. Jadi wajar bila kedai mie ini hampir tidak pernah sepi pengunjung. Namun, tentu masalah selera tergantung masing-masing ya.. buat saya pribadi sih lumayan dan kuahnya gurih. Tidak banyak menggunakan campuran yang dapat merusak rasa. Tidak hanya itu, sang pemilik juga menyediakan berbagai aneka varian lain sesuai dengan selera pengunjung. Langsung saja ya, ini dia penampilannya

Photo by AnisaKJ

Photo by AnisaKJ

Jangan salah ya, kalau di foto terlihat kecil. Tapi kalau udah dipindah ke mangkuk, itu mangkuk ukuran normal bisa ampe penuh membumbung hehe.  Dari segi harga, Mie Gajah Emas ini mematok Rp 23.500,00 untuk dibawa pulang dan Rp 17.500,00 bila dimakan di tempat. Hal ini karena penambahan wadah yang digunakan. Mulai dari cup plastik food grade dan kardus kotak berwarna merah yang rapi dipandang mata, meninggalkan kesan simple jika dibawa pulang. Masih belum puas? Nih tampilan dalamnya

20161212_163202

Taken by AnisaKJ

Ibu saya memesan varian pangsit bakso jamur. Ada tiga pangsit kukus di dalamnya, dua buah bakso, ayam remah, jamur, dan sawi pak choy. Ada yang tanya, di mana mie-nya? Haha. Ia terkubur oleh aneka toping di atasnya.  Satu paket mie sudah dilengkapi dengan sendok, sepasang sumpit, dan saus sambal serta saus cabai. Komplit kan? Hehe. Kalau statusnya halal nggak sih? Tenang saja, Mie Gajah Emas dijamin 100% halal, tidak mengandung babi, formalin, boraks dan tidak alkohol.

Taken by AnisaKJ

Taken by AnisaKJ

SAMYANG KOREA : HALAL OR NOT?


Akhirnya, saya tertarik membahas mie fenomenal yang banyak digandrungi k-popers dan para pecinta mie di seluruh dunia ini “SAMYANG“. Katanya pedes bingit ampe perut mules-mules dan lidah terbakar dalam waktu beberapa menit gitu gengs. Sebenarnya saya juga belum mencicipi pedasnya mie ini. Pokoknya belum penasaran banget. Tapi lagi-lagi untuk makanan import yang paling dipersoalkan adalah halal,haram, dan syubhatnya. Ya, memang tidak salah untuk mengetahui hal tersebut, sebab sebagai muslim memang harus memerhatikan kehalalan produk yang kita konsumsi. Mengapa demikian? karena apa yang masuk ke dalam tubuh dapat memengaruhi pengguna, pemakai, dan pemakannya. Lalu apa sih yang dipermasalahkan dari Samyang ini?

Pertama adalah desas-desus bahwa SAMYANG merupakan produk tidak halal. Kedua, anggapan sebagian masyarakat bahwa tanpa label dari MUI, maka dianggap tidak layak dimakan atau dikonsumsi. Ketiga, masih ada aja yang tidak mau mencari tahu dan berkilah bahwa mie buatan luar Indonesia, atau lebih tepatnya buatan kafir, dan lainnya di luar islam dianggap sebagai bagian dari penghancuran otak manusia sehingga mereka mudah emosi, marah, dan lain-lain. Bukan bermaksud rasis, namun tentu anda tidak asing dengan pernyataan seperti itu. Menggelikan dan cenderung arogan. Wah, jujur yang ketiga ini kalau saya baca dalam komentar-komentar status atau berita harian suka serem. Mie bisa menghancurkan otak manusia dan menjadikan mereka mudah emosi, mengikuti hawa nafsu dan sejenisnya. Sahabat yang dimuliakan hatinya, kita al-fatihah bareng-bareng dulu yuk, biar nggak mudah emosi dan menyalahkan si SAMYANG. Batin si SAMYANG menggelora loh dijadikan sumber ukur tingkat emosional seseorang. Kalau aku sih ya, kalau aku loh.. makan mie justru merasa rileks, makan kan bikin lega dan kalo kepedesan rasanya plong, apalagi waktu pilek, hehehe.

Mari kita bahas yang pertama mengenai produknya yang sempat diterpa problematika “HALAL”.

  1. Kehalalan SAMYANG
    Well, perlu diketahui 
    Perusahaan SAMYANG sendiri memang memproduksi dua kategori mie yakni halal dan tidak halal. Untuk yang halal, mie tersebut dipasarkan di luar korea, seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, dan negara lainnya. Tentu dengan label halal seperti berikut

 Image result for produk samyang

lihat kan ada label HALAL di sana? itu yang warna hijau di bawah kubah Masjid. Dan untuk yang tidak halal dipasar atau diedarkan di dalam negeri sendiri, yakni Korea. Sebab, kita tahu bahwa mayoritas penduduk Korea bukanlah muslim seperti di Indonesia. Maka dari itu, mereka cukup tepat dalam menjalankan strategi bisnis ini. Sedangkan yang tidak halal, mereka tidak mencantumkan label halal. Meskipun begitu, perusahaan sendiri menjamin bahwa mereka memisahkan seluruh peralatan dan perangkat yang digunakan untuk memproduksi SAMYANG, sehingga yang haram dan halal sudah dipisahkan sesuai ketentuan KMF (Korea Muslim Federation) atau bisa dikatakan MUI-nya Korea. Hal ini diperkuat oleh Global Halal di fanspage Halal Korea. Jika ingin membaca detailnya bisa klik fanspage di bawah ini

Lalu bagaimana jika melihat produk yang ada di dalam negeri namun tidak ada label halalnya? menjawab pertanyaan ini saya menyarankan bahwa jika memang ragu dan mendekati syubhat maka alangkah lebih baiknya dihindari, sebab keragu-raguan juga condong tidak baik. Namun bila anda sudah terlanjur membeli, maka tidak ada salahnya untuk mengirimkan pesan pada alamat email atau melalui customer service yang telah dicantumkan pada produk atau untuk lebih meyakinkan lagi, anda bisa menghubungi alamat email berikut ini :

kontak

2. Haruskah MUI sebagai acuan makanan tersebut halal atau tidak?

Untuk kasus makanan domestik atau dalam negeri, memang MUI lah yang paling dipercaya dan turut bertanggungjawab dalam persoalan makanan halal sebagai lembaga ulama yang tidak dikhawatirkan lagi keabsahan dan penelitiannya dalam menilai, menimbang, serta memutuskan kehalanan makanan yang diproduksi oleh sebuah perusahaan. Namun, perlu dicatat bahwa untuk kasus makanan Import yang halal, tidak mesti memiliki label MUI. Bukan karena meragukan MUI, namun hampir seluruh negara di penjuru dunia, terutama di kawasan Asia dan Eropa, Amerika sudah memiliki Federasi Muslim sendiri, ibarat kata mereka adalah MUI-nya kita di luar negeri, jadi muslim-muslim di luar negeri juga memiliki lembaga atau federasi muslim sama seperti MUI dalam mencantumkan label halal. Jadi, tak perlu takut atau ragu jika memang ada label halal sementara makanan itu berasal dari luar negeri. Produk Indonesia memang bagus dan tak kalah dari asing, namun kita sebagai manusia tentu juga ingin mencicipi kuliner dari berbagai negara dikarenakan Allah menciptakan kita bersuku-ras dan berbangsa. Contoh federasi atau lembaga muslim seperti di bawah ini

haa

3. Makanan buatan orang kafir, yahudi, dan sebagainya di luar islam dapat menghancurkan otak kita?
Kita gunakan kepala dingin dulu agar tidak mudah emosi dan melontarkan kata demikian. Sahabat yang dimuliakan hatinya, yang saya kagumi dan saya batin anda mungkin bertanya-tanya ngapain saya nulis kalimat seperti ini. Tapi saya sarankan, nggak perlu dipikirin banget haha.  Sebagai manusia kita diciptakan sempurna oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang dbekali akal serta pikiran. Untuk apa? untuk berpikir dan menerka menggunakan logika tanpa meninggalkan akhlak seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW #kultumdulu. Manusia memiliki akal, tentunya bisa berpikir dan memilah mana makanan yang harus dikonsumsi dan mana yang tidak boleh dikonsumsi atau dijauhi sesuai syariat. Nah, dalam kasus seperti ini kita sebagai Muslim harus memilih makanan yang halalan toyyiban alias halal juga baik. Jadi, jika kita memilih makanan yang tidak baik, maka siapa yang harus menginstropeksi dirinya? makanan atau orangnya? ya, betul orangnya. Sebab, tidak semua perusahaan memproduksi makanan seperti keinginan dan kriteria kita, namun mengikuti segmen pasar. Siapa yang menjadi konsumen utama dan bukan. Jika diterawang dan dicari akarnya, seluruh bahan makanan saat ini tidak terlepas dari produk-produk import seperti fermipan yang digunakan para pengusaha roti atau kue rumahan oleh sebagian umat islam berasal dari luar negeri. Lalu perusahaan-perusahaan besar penghasil makanan instan juga tidak seluruhnya muslim, namun mereka tetap memiliki ijin HALAL dari MUI. Jadi di manakah letak makanan tersebut menghancurkan otak manusia atau membuat kekacauan makhluk hidup? kalau basi mungkin bisa bikin kita diare, muntah-muntah, bakal kejang-kejang karena duit di kantong udah abis, eh dapetnya kadaluwarsa hehe.

Rasulullah SAW mengajarkan dari sikap beliau saat makan adalah tidak pernah menghardik makanan yang disantapnya, jika makanan tersebut dinilai tidak pas maka beliau hanya diam dan meninggalkannya (kalau salah tolong dikoreksi). Lalu soal-menyoal tipuan orang yang kita anggap melumpuhkan cara berpikir kita melalui makanan, maka kita urai terlebih dahulu. Pertama, kita sempatkan berpikir “makanan yang salah atau kita yang selalu menggunakan otot dalam otak sehingga tidak mampu berpikir jernih, lantas menyalahkan makanan halal yang bukan buatan muslim?” dan seorang Ustadz pernah mengatakan demikian

Jika islam membuatmu lebih egois, MUDAH menghina, marah tanpa alasan, menghardik, menghakimi, maka kamu perlu memeriksa, apakah kamu sedang mendekatkan diri pada Allah, atau kamu mendekati ego dan hawa nafsumu sendiri

Memang makanan itu memengaruhi darah dan sikap kita dalam berlaku sehari-hari, namun alangkah baiknya untuk banyak memandang dan mawas diri dibandingkan menyalahkan produk suatu makanan halal yang anggapan diri adalah bukan buatan muslim.

Shop N Drive Memudahkan Perjalanan Kami

Tag

, , , , , , ,


Sebenarnya ini bukan cerita saya, namun lebih tepatnya cerita kami bersama. Ketegangan ini terjadi dua bulan yang lalu. Bermula pada saat kami berlima, para mahasiswa yang ingin menghadiri acara pernikahan teman kami di Semarang, Jawa Tengah. Kami terdiri dari dua pria dan tiga wanita dalam satu mobil, yakni Didi, Eko, saya, Rina, dan Emi. Keberangkatan dijadwalkan hari sabtu dengan start dari rumah Didi. Kami berangkat dari Surakarta ba’da Isya menggunakan mobil Eko yang sudah terparkir di rumah Didi. Eko sengaja menyerahkan tugas menyetir pada Didi karena ia merasa lelah dan berjanji akan menggantikannya bila ia sudah merasa cukup beristirahat di dalam mobil.

Sepanjang jalan seisi mobil asyik mengobrolkan sesuatu yang berkaitan dengan acara pernikahan teman kami. Mulai dari busana, makanan, dan lainnya hingga kami para gadis , tidak sadar sudah sampai di Semarang. Riuh di tengah obrolan, tiba-tiba Didi menepikan mobil di pinggir jalan dekat pom bensin, tepatnya di bawah lampu neon berwarna oranye. Saya tidak tahu sedang berada di daerah mana karena saya bisa dibilang buta arah. Namun yang saya ingat, waktu itu jalanan sudah mulai lengang dan pom bensin yang berada tidak jauh dari poisisi kami diisi oleh para petugasnya yang hanya duduk-duduk santai menunggu pelanggan datang. Pada awalnya saya kira bensin habis dan mengajukan diri untuk berjalan kaki ke pom bensin untuk membeli bahan bakar, namun dicegah oleh Eko dan Didi. Katanya bukan karena bensin habis, tapi ada masalah lain. Didi pun membuka kap mobil dan memeriksa seluruh mesin yang ada di dalamnya.

“Kenapa nih?” tanya saya sambil melihat Eko dan Didi yang berdiri di depan mobil.

“Wah, accu-nya, Bro,” ujar Didi.

“Waduh! serius, Di?” tanya Eko pada Didi. Wajahnya terlihat tegang dan panik.

“Terus gimana dong? nggak mungkin kan kita sepanjang malem di sini?” saya kebingungan dan takut jika harus tiur di dalam mobil sepanjang malam.

“Rumah Budhemu masih jauh nggak, Di? kan kita nginep di sana.. kalau udah deket, mending kita minta tolong orang rumah Budhemu aja suruh ke sini bantuin kita,” kata Eko.

“Masih jauh, Bro!” jawab Didi.

“Eh, ini kenapa sih dari tadi nggak lanjut jalan?” sahut Rina yang turun dari mobil.

Aki-nya sekarat, Rin. Minta ganti nih kayaknya,” kata Didi.

“Oh, ini aja! telpon Shop&Drive, Kemarin mobil papaku juga mogok pas nganter aku ke kampus. Terus telpon mereka,” seru Rina.

“Lah, mobil papamu di Solo, sedangkan kita lagi di Semarang. Kamu nyuruh mereka buat ke sini, gitu?” tanya Eko dengan nada agak tinggi.

“Ya enggaklah! kan cabang mereka banyak, di Semarang juga ada. Udah, coba dulu aja! Percaya sama aku. Buruan telpon 15-000-15, tapi jangan aku. Hape-ku low bat,” kata Rina penuh percaya diri.

“Tapi ini udah malem, Rin!” tukas Eko.

“Halah, mereka 24 jam. Dah, jangan rewel, telpon aja dulu! Ngedumel nggak jelas juga nggak bikin mobil kita jalan!” Rina menimpali Eko.

gambar ilustrasi

gambar ilustrasi

Akhirnya, Eko menelpon nomor tersebut dan kami berdiri sambil mengobrol demi menghilangkan rasa khawatir yang berkecamuk di kepala. Tak lama kami menuggu, datang seorang pria lengkap dengan seragam merah putih dan box berukuran besar yang terpampang di atas motornya. 24 JAM GASTRA DELIVERY 15-000-15 Call Shop&Drive. Begitulah tulisan yang tertera di bagian muka samping box tersebut saya eja. Rupanya menurut penuturan Rina, Ayahnya juga menggunakan jasa Shop&Drive dan mendapat pelayanan yang cukup sigap dan cepat. Saya tidak paham apa yang pria tersebut lakukan, namun ia terlihat mengotak-atik mesin di bawah kap mobil. Tangannya cekatan sekali memegang mesin dan berulang kali muutnya meniupkan udara ke arah rerangka mesin.

“Dah, Mas. Ini korosinya cukup parah, tapi sudah saya bersihkan dan betulkan seluruhnya. Coba nyalakan mobilnya,” kata pria tersebut yang sudah menutup kap mobil.

Dengan perintahnya, Didi pun bergegas masuk ke dalam mobil.

“Iya, Mas. Sudah!” teriak Didi dari dalam mobil.

Alhamdulillah, akhirnya mobil kami sudah kembali normal dan dapat melanjutkan perjalanan menuju rumah Budhe Didi sebagai tempat menginap kami. Dengan pembayaran cash yang tidak mahal kami semua dibuat lega. Maklum, kami tidak membawa uang banyak waktu itu. Tapi, syukurlah tarif yang dikenakan sesuai dengan pelayanan dan penanganan yang diberikan.

Singkat cerita Rina mengetahui Shop & Drive melalui Ayahnya yang sering membawa mobil. Ia sudah dua kali menggunakan jasa mereka untuk masalah Accu dan belum pernah dibuat kecewa atas pelayanan yang disuguhkan. Petugas yang ramah dan cepat datang membuat sang Ayah mengandalkan Shop & Drive sebagai partrner pendukung dalam setiap pekerjaannya yang bersangkutan dengan sarana transportasi, terutama masalah accu. Itulah mengapa Rina juga mudah menghafal nomor layanan tersebut di luar kepala tanpa memeriksa ponselnya. Selain mudah diingat, ayahnya juga konsisten terhadap jasa tersebut.

Dari peristiwa ini saya berpikir bahwa jasa seperti ini memang sangat diperlukan, bahkan dalam waktu genting sekali pun, karena tanpa bantuan kinerja dari mereka maka bisa jadi perjalanan juga terhambat dan merusak susunan acara yang sudah dijadwalkan. Dalam waktu 24 jam berarti para pekerja dapat diasumsikan bekerja dengan merelakan diri penuh untuk pelanggan yang membutuhkan bantuan atau jasa mereka. Terbukanya cabang di banyak kota juga mempersempit jangkauan agar pekerjaan itu memudahkan bagi karyawan sendiri dan bagi pelanggan, sebab di mana pun keberadaan pelanggan, mereka bisa menelpon nomor yang sama tanpa mengubah kode area dan pelayanan tetap diperoleh. Jadi ya #GSAstraDelivery aja 🙂