Tag

, , , , , , , , , , , ,

Pernahkah kamu merasa dijatuhkan atas pekerjaanmu padahal jika dilihat dari sisi agama pun tergolong halal? Apakah pekerjaanmu menyumbangkan banyak manfaat bagi orang lain atau kamu hanya berpikir bahwa pekerjaan menjadi alat untuk menafkahi keluarga tanpa embel-embel lain? Barangkali saya berada di posisi seperti itu. Entah apa yang membuat seseorang berkata “kamu itu pinter, tapi sayang sekali kalau hanya jadi seorang penonton dan komentator saja. Kamu harus jadi pemeran utamanya”. Pernyataan itu bagaikan petir di siang hari yang membuyarkan kehadiran cita-cita saya untuk menjadi seorang penulis. Ya, Ia mengatakan demikian karena saya berujar atas pertanyaan yang ia tujukan malam itu tentang pekerjaan saya─bahwa pekerjaan masa kini adalah sebagai blogger dan penulis di beberapa media. Apakah pekerjaan ini tak bermanfaat dan menjadikan seseorang berada di level rendah? Padahal selama ini, saya memandang bahwa seluruh pekerjaan itu berisiko. Memiliki manfaat dan mudharatnya.

Selama ini pula saya memandang bahwa passion terbesar yakni menulis, menulis, dan menulis sebagai perjalanan menggapai mimpi. Mungkin memang terkesan mustahil dan tidak secerah keberhasilan orang lain pada umumnya, namun saya meyakini bahwa perkataan seperti di atas bisa jadi adalah motivasi, namun sekaligus pukulan telak. Saya membayangkan diri ini hanya diam tidak menulis, berkomentar dan lain-lain seperti mayat hidup. Jika semua orang menjadi pemeran utama lalu siapa para pendukung dan tim lainnya? Saya pun punya mimpi yang dapat dibilang cukup ekstrim. Banyak sekali mimpi itu dan baru tercapai satu. Untuk mencapai mimpi tentu tidak mudah. Sulit sekali bayangan saya, bahkan hingga kini. Saya hanya anak kampung yang merangkak ke kota untuk sebuah mimpi. Modal saya hanya tidak takut untuk bersuara selama tidak melanggar peraturan Negara, apalagi peraturan Tuhan. Belum cukup sampai di situ, Ia mengatakan lagi bahwa jangan menjadi orang yang idealis”Untuk ini saya akui, bahwa saya memang memiliki idealisme sendiri dalam memandang suatu permasalahan yang kadang juga berbeda dengan orang lain, tapi saran, masukan, nasehat tetap saya terima asal dibeberkan ke dalam bentuk diskusi yang sehat. 

Ia menyarankan saya untuk menjadi guru karena pekerjaan di luar itu seolah sayang sekali, atau berada di level yang tidak sebaik Guru. Saya orang awam yang hingga saat ini masih terus membantu menyuarakan hak-hak dan kewajiban Guru. Namun, rupanya saran beliau seakan memaksa saya untuk menjadi seorang guru, sama sepertinya dan Ibu. Jujur dalam hati membatin, saya juga ingin mencerdaskan anak-anak bangsa, mengangkat pendidikan di berbagai desa atau wilayah pelosok dan sejenisnya. Demikian mimpi saya yang lain. Apa daya, untuk meraih itu semua dibutuhkan usaha yang tidak main-main. Terutama persoalan biaya. Di samping itu, ada banyak beban yang harus saya pikul agar pendidikan adik-adik saya dapat terus berjalan tanpa merasakan putus sekolah─dan saya pun masih mengusahakannya hingga sekarang.

“Apa pun yang bisa kamu lakukan, yang bisa kamu raih.. lakukan!” kata Ibu sambil duduk jongkok di samping saya. Semangat dari Ibu lebih berharga dan senantiasa menjadi pelipur lara di kala saya terjatuh. Katanya, jangan sering mendengar perkataan orang, karena belum tentu mereka menyokong seseorang berdiri namun justru membuat ragu dalam melakukan sesuatu sesuai passion. Saya percaya, Ibu lebih memahami putrinya dibanding orang lain karena kedekatan saya dengan Ibu memang bisa dikatakan hampir tidak ada batasan.

Jika diuraikan, seorang penulis dan blogger boleh dikatakan juga termasuk bagian dari lampu penerang di kegelapan bagi banyak orang. Tentu tergantung apa yang dituliskannya dalam sebuah website atau forum hingga media sosial. Padahal, seorang penyanyi juga berkomentar dan menuangkan pikirannya dalam sebuah lagu. Seorang penyair menjadi seorang bintang dalam sajak-sajak indahnya. Lalu apakah semua pekerjaan harus dipandang layaknya kasta? Pekerjaan ini lebih baik dibandingkan itu. Pekerjaan ini nilainya lebih besar dibandingkan yang lain. Hal tersebut justru membuat saya berpikir bahwa pekerjaan yang dinilai berkasta oleh orang lain tak harus ditampakkannya dalam sebuah kalimat atau penghasilan. Boleh jadi pahala atau ridha Allah berbeda dengan pekerjaan yang selama ini kita anggap besar, mewah, bermanfaat banyak bagi orang lain. Sekali lagi, pengalaman ini membawa saya untuk berusaha lebih keras─dengan cara saya sendiri.

Saya pikir, ada yang aneh jika menjadikan tolak ukur kepandaian seseorang dengan profesi yang ia tekuni. Seperti misalnya, seorang pria yang pandai seharusnya ia menjadi dokter, bukan salesman sebuah perusahaan. Padahal tanpa salesman, kinerja perusahaan juga tidak berjalan semestisnya. Tidak sesuai dengan struktur yang telah ditetapkan. Posisi itu tidak penting bagi kebanyakan orang, karena memang dogma tentang kasta profesi sebuah pekerjaan sudah mendarah daging bagi orang di negara ini. Kata Tante saya yang tinggal di London bersama suaminya─Seorang pengamen di London tidak dianggap rendah, mereka bahkan memberikan suguhan yang berkualitas melalui musik (padahal pakaian mereka juga terlihat agak lusuh). Tidak hanya pengamen, bahkan pelukis jalanan menunjukkan seni kreatifitasnya yang tinggi. Semua orang memandanginya diikuti sorakan riuh dan iringan tepuk tangan. Namun, Tante memberikan pandangannya bahwa itu dikarenakan mereka tinggal di London dengan kebiasaan dan cara pandang orang yang luas. Jika mereka dipindahkan ke Negara lain juga belum tentu mendapat sambutan yang sama atau perlakuan yang sama (terutama di Indonesia), karena cara kita memperlakukan dan memberikan sudut pandang terhadap pekerjaan sudah berbeda dan dingin.

Pengamen di Negeri ini sudah biasa dianggap tidak memberikan manfaat karena mereka juga tidak memiliki ruang dan sasaran yang tepat untuk menunjukkan kemampuannya. Ini terbukti dari banyaknya pengamen yang mengikuti audisi bernyanyi di sebuah kompetisi musik sebagai ajang untuk mereka menunjukkan kemampuan dan menggapai mimpi. Lucu bukan? seorang pengamen juga memiliki mimpi. Apalagi seorang penulis amateur seperti saya? Mereka pengamen, biasanya bernyanyi di dalam bus, menyambangi perumahan, bahkan masuk ke pasar-pasar tradisional. Sungguh area yang tidak tepat dan hanya akan dianggap sebagai pengganggu. Kira-kira begitulah anggapan khalayak umum.

Contoh peristiwa di atas bisa menjadi pembelajaran kita bahwa suatu pekerjaan bisa jadi menjadi batu loncatan, bisa jadi sebuah passion, dan bisa jadi karena tekanan dari berbagai situasi dan pihak lain. Tak selayaknya kita menghakimi suatu profesi dan menyudutkan seolah pekerjaan mereka sia-sia selama itu tidak merugikan orang lain atau melanggar ketentuan yang berlaku. Bahkan di Islam sudah diajarkan untuk berkata baik atau diam. #SalamLiterasi