Tag

Pernah mendengar tentang disabilitas? Ya, disabilitas merupakan keterbatasan fisik seseorang yang membuatnya tidak dapat melakukan berbagai aktivitas secepat orang normal lainnya. Mereka perlu mengeluarkan tenaga lebih jika ingin menyelesaikan suatu pekerjaan. Kira-kira begitulah kondisi yang dialami oleh Tante saya bernama Murni. Penyakit polio yang menyerang tubuhnya di usia muda membuat kaki kirinya tidak dapat berjalan beriringan dengan kaki kanannya. Belum lagi, masih teringat lekat di kepala saya, tiga tahun lalu suaminya meninggal akibat sakit keras dan tinggal lah ia seorang diri merawat buah hatinya, Frilia. Barangkali Tuhan sudah memutuskan takdir bagi Tante saya sedemikian rupa. Penuh ujian dan harus menjadi single parent bagi putri semata wayangnya itu.

Tante dan Buah Hatinya

Tante, Frilia, dan~eh ada yang nyempil satu lagi (keponakan yang lain).

Di usia beliau yang kini hampir mendekati 40 tahun, ia masih tetap produktif sebagai seorang disabilitas. Seluruh waktu yang diberikan Tuhan, beliau habiskan untuk mengurus buah hati dan menjahit. Ya, pekerjaan yang ia tekuni sedari dulu hingga kini adalah menjahit. Tak jarang saya sering memintanya untuk membuat sepasang baju guna menghadiri acara pernikahan, lebaran, dan lainnya. Setiap minggu kami sekeluarga bergiliran mengunjunginya sekadar memastikan apakah kesehatan ia dan putrinya baik-baik saja. Namun, niat kami ini memang sering meleset dari apa yang dipikirkan oleh Tante saya. Ia justru sering mengajak diskusi saya masalah kecantikan wajah, cara membuat kulit agar nampak lebih halus dan muda.. yah pokoknya hanya berkutat di situ terus.

Menurut Tante saya, untuk menunjang kecantikan memang dibutuhkan segelintir usaha baik dari dalam atau pun dari luar, toh jika fisiknya tidak sempurna bukan berarti tidak ada kecantikan dalam dirinya yang tidak bisa ia lukiskan. Pasti ada.

“Cara menjadi cantik adalah menemukan kedamaian terlebih dahulu dalam jiwa agar seluruh sendi dalam tubuh dan otot wajah tidak mudah rusak sehingga ditemukan ‘sesuatu’ yang kita sebut sebagai cantiknya wanita,” ujar Tante saat berhadapan dengan cermin di samping meja mesin jahitnya. Saya hanya mendengar dan manggut-manggut.

Jujur, sebenarnya saya merasa aneh dengan penuturan beliau, yang kalau dipikir ulang kalimat itu terasa njlimet sekali di kepala. Membuat saya meracau pusing tujuh keliling. Acapkali saya sendiri bingung mencari makna kalimat tersebut. Namun, setelah mengobrol panjang lebar dengannya, lambat laun saya sedikit memahami bahwa memang ada pesan yang ingin disampaikan oleh Tante saya terkait #UsiaCantik tersebut. Awalnya ia merasa minder  dan frustasi karena dipandang sebagai sosok wanita disabilitas. Banyak orang menilai bahwa disabilitas mematikan seluruh kelebihan yang dimiliki oleh Tante saya, yang notabene merupakan sosok perempuan berusia 39 tahun.

“Disablitas tidak akan memangkas kecantikan seorang wanita meskipun berusia puluhan tahun, jika ia mampu memelihara sumber kecantikannya,” celoteh Tante saya. “

“Hah? sumber kecantikan? apa lagi itu,” batinku. Penuturan pertamanya saja saya masih belum seluruhnya paham, sekarang sudah ada slogan kedua. Saya makin bingung, mungkin karena ia sudah berusia matang dan memiliki perspektif berbeda soal #UsiaCantik. Dari apa yang telah kami perbincangkan, saya berusaha menangkap pesan dan penjelasan oleh Tante saya mengenai #UsiaCantik.

Pertama, sebagai wanita dewasa dan berjalan melangkah ke usia yang makin menua, maka harus lebih produktif dengan apa yang ingin dibangun oleh diri sendiri. Artinya, hinaan dari orang lain tentang disabilitas tidak ada yang cantik itu salah dan ia membuktikannya. Ia berusaha tidak menanggapi celaan atau perkataan negatif dari masyarakat. Sebaliknya, ia fokus menemukan kedamaian dalam diri sendiri sehingga mampu menjadi apa yang ia harapkan. Lelahnya menapaki hidup menjadi seorang penjahit tidak membuat wajahnya mudah menua akibat dimakan waktu. Apapun yang ia lakukan berkat kedamaian yang ia ciptakan dalam sendiri. Karena saat mencapai titik kedamaian, maka seluruh sendi dan otot tubuh tidak akan tegang, terutama bagian wajah. Tidak heran, saya melihat di usianya yang berada di kepala tiga, kecantikannya semakin menebarkan aura berbeda. Kulit Tante saya bahkan halus dan tidak banyak keriput yang muncul. #UsiaCantik yang ia tunjukkan cukup mengesankan dan mudah ditangkap oleh kasatmata.

“Mbak Murni kok tambah cantik saja, ya?” kata seorang pelanggannya yang sering datang ke rumah saat saya berada di sana. Lantas Tante hanya tertawa dan menahan rasa malu. Tidak hanya itu, bahkan kini ada seorang pria yang ingin mendekatinya. Ouch, Good Job, Tan.

Kedua, Sumber kecantikan itu letaknya dari dalam dan dari luar. Dari dalam, menyangkut bagaimana kita seorang wanita menghadapi berbagai situasi sulit, memperlakukan diri sendiri hingga mampu berkembang menjadi tokoh yang lebih bermanfaat bagi orang lain.  Sementara dari luar adalah disediakannya beberapa produk perawatan yang dapat menunjang kecantikan fisik. Dua-duanya dilakukan oleh Tante saya dan diterapkan dalam kehidupannya sehari-hari. Tidak peduli seberapa lelah menghampiri, yang namanya merawat diri itu harus didisiplinkan agar menjadi kebiasaan dan mampu menghadirkan #UsiaCantik seperti harapannya.

Sekarang #UsiaCantik Tante, ia mantapkan diri untuk mengikuti berbagai kegiatan lain seperti seminar handcraft dan pelatihan khusus bagi disabilitas, tentu ia juga masih aktif menjahit sebagai bentuk kecintaannya terhadap dunia tersebut. “Semakin kita memfokuskan diri menjadi seorang wanita dewasa yang matang untuk membenahi kehidupan, maka semakin cantik pula kita di hadapan khalayak umum juga Tuhan,” tambahnya malam itu.

Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L’Oreal Revitalift Dermalift.