Tag

, , , , , , , ,

Well, oke di sini saya cuma ingin berbagi mengenai sebuah pengalaman berjualan di kantin kejujuran. Sudah tahu apa itu kantin kejujuran? yaps, kantin kejujuran adalah sebuah wadah bagi para penjual untuk menitipkan barang dagangannya tanpa perlu mereka awasi atau dijaga layaknya tempat berjualan lainnya, dan di sana pembeli juga bebas memilih makanan yang mereka sukai tanpa harus dilihat atau merasa diawasi sang penjual, tapi ingat, TUHAN selalu melihatmu guys… dan jika kamu tidak membayar padahal memiliki uang, kamu tidak ada bedanya dengan swiper sang pencuri…(swiper mah masih ada unyu-unyunya hahahaha)

Saya menggeluti dunia bisnis sejak SMP dengan berjualan martabak mie. Cara yang saya tempuh yakni menitipkan barang dagangan ke adek saya yang perempuan (kelas 4 SD kalo ndak salah), lalu dia bawa satu kotak full isinya potongan martabak mie ke tempatnya sekolah. Ya, saat itu pertama kalinya saya bisa bikin martabak mie dan melihat bahwa anak SD itu makan apa aja mau, asal enak. Tetapi tidak perlu khawatir, tiap dagangan yang saya buat adalah halal, bersih, dan terjamin bikin kenyang (ya kalo belinya nambah gitu pasti kenyang huahahaha). Dia berjualan di kelasnya gitu aja, ditungguin, dan tanpa disuruh bayar anak-anaknya sudah mengerti. Setiap adek pulang, kotak yang ia bawa selalu kosong, dalam arti ludes abis..paling pernah sekali dua kali dagangan sisa satu atau dua potong (apalagi kalo bukan dimakan sendiri hahah, kan daripada mubadzir haha). Uang hasil jualan saya bagi dengan adek saya karena di dalamnya terdapat haknya yang menjadi seorang ‘penjual’, dan itu berlanjut sampai dia lulus SD.

“Saat ingin mulai berbisnis, hal pertama yang harus kamu pikirkan adalah sebuah peluang, rasa optimis, serta mental baja”

Peluang maksudnya di sini adalah kesempatan yang bisa memperoleh benefit atau manfaat jika kita kembangkan atau kita bawa dalam kehidupan di masyarakat. Saya memilih martabak mie pada saat itu karena di sekolah adek saya belum ada yang menjual martabak mie, apalagi pedesaan..weiih sama sekali belum ada guys, ditambah lagi anak kecil adalah kulinermania yang asik. Kenapa? karena mereka masih dalam masa pertumbuhan dan ingin tahu segala hal, saat itu cocok langsung nyoba terus, terus, dan terus, dan akan bosan pada waktunya (jika waktu mengijinkan, tapi saya harap sih enggak biar beli terus hahahha).

Rasa optimis? yaps, saat mulai berbisnis kita harus optimis bahwa kegiatan ekonomi yang kita jalankan ini akan berhasil. Jika tidak? ya disitulah mental baja dibutuhkan. Kalau nggak punya mental baja gimana mau bertahan lekas mencari jalan? Optimis itu harus dan mental baja juga harus. Dua-duanya penting untuk dipikirkan. Siap berjuang maka siap dengan segala konsekuensi apapun yang harus kita terima, meskipun pahit ya dinikmati bukan dibiarkan.

“Dan saat ingin mulai berbisnis, hal pertama yang harus kamu miliki adalah skill dan rasa ingin terus belajar”

Dipikirkan terlebih dahulu, skill kita condong dan arahnya kemana? memasak kah? promosi, desain grafis, teknologi, arts, atau yang lainnya? jika sudah menemukan skill dalam jati diri maka lanjutkan gerakanmu nak!!

Rasa ingin terus belajar tidak boleh hilang dan harus dimiliki, bahkan bukan dari seorang pebisnis sekalipun. Ilmu memang harus dikejar sampai ke negeri yang kita inginkan, teruslah belajar, belajar sampai kamu menemukan dan akhirnya menyadari “oh aku ternyata mahir dibidang ini ya daripada ini”, langsung eksekusi aja… dan semangat guys!!!

ya begitulah intinya….kemudian, saat SMP bisnis saya pun beralih dari martabak ke reseller paber kastil, yah karna masa SMA adalah saat-saat di mana kantong anak remaja lebih tebal dibandingkan anak SD yang makan martabak eaaah haha, saat itu saudara menawari untuk jadi reseller produk pensil dll, dan itu juga lancar, susahnya adalah dipromosi dan meyakinkan pembeli bahwa barang ini bagus, nyaman digunakan saat ujian, dsb..bayangkan dr penjual dibalik layar kemudian beralih menjadi penjual di depan layar..rasanya tuh 150KM banget bedanya..susah ndee…dengan awalmula masih malu-malu, ngluarin barang dari dalam kresek terus basa basi “eh ini dijual lho..bagus…ada yang mau beli enggak?” sampai ada yang tiba-tiba bertanya “ini berapaan mbak?”. Oke, sekarang saya tau betapa mahal harga diri ini harus diasingkan ketika mulai berjualan, Oh God..my life is so beauty…

“Harga diri memang harus diasingkan ketika harus melakukan promosi, terutama jual beli secara langsung”

Nah yang paling lebih berat adalah masa-masa veteran gini, kan kalo mahasiswa veteran kerjaannya apa? ya nyekripsi. Yakin cuma nyekripsi aja? ya enggaklah, dijamin bosen (just for ma self). Di luar itu pasti nyari kegiatan lain, kalo piknik terus duit abis, kalo nyekripsi terus depresi, kalo….kalo..dan kalo….oke cari peluang dan kesempatan. Hingga pada akhirnya saya nyobain, eksperimen kesana kemari, modifikasi dan inovasi menu dan sekalinya berhasil langsung apply…kemana? ya jualan, kali ini bukan dijagain, bukan juga promosi, tapi langsung ditaroh di kantin kejujuran. Dari jualan martabak-reseller paber kastil-penjual roti di kantin kejujuran. Awalnya saya berpikir, pasti habis karena ini enak (entah ini optimis atau belagu ya hahaha). Well, kenyataannya hari pertama saya letakkan di kantin kejujuran dengan sasaran mahasiswa, dan memang habis tapi ada yang membuat galau disini. Barang dagangannya habis tapi uangnya menipis. Yaps, saat itu ada 5 roti yang tidak dibayar..dan kesulitan itu makin besar seiring naiknya karir kita (ceileee karir haha), semakin optimisnya diri kita memang harus semakin dikuatkan mental bajanya. Bisnis bukan hanya soal keuntungan, uang, tetapi soal bagaimana dan apa yang kita perjuangkan. Jika kalian makan roti yang gue jual dan gak bayar terus baca post gue pliss,, muntahin roti itu sekarang juga!!!!!! hahahhaha. Kantin kejujuran bukan akhir dari berbisnis, yakin saja setiap hak kita yang diambil oleh orang lain pasti diganti dengan lebih baik atau apa yang diambil dari kita mungkin karena diri ini yang kurang bersedekah. Rejeki tidak ada yang tahu tetapi bisa diusahakan, right? so good luck guys, may Allah SWT with us🙂