Tag

, , , ,

Siapa kita ini? yaps, kita adalah manusia. Saat berada di dalam kandungan kita sendiri, dan saat mati pun juga sendiri, tetapi bagaimanakah saat kita berada di dunia dan mengenal lingkungan? (jawabannya ada dalam diri kita masing-masing)

Mungkin saat sedang kita banyak teman, kita dekat, makin dekat, makin dekat, lalu sebuah masalah membuat semakin dekat kemudian menjadi sahabat. Trimakasih masalah…. #eh gak semuanya mengalami proses kayak gini yah? hihihi. Banyak sahabat baik, alim, sholehah/sholeh, rajin menabung, tidak sombong? kamu pantas bersyukur, kenapa? karena mereka adalah salah beberapa saksi perjalanan hidupmu, maka perbanyaklah “sahabat”. Tetaoi tunggu, apakah ketika kita mengenal orang lalu kita menganggapnya sahabat? emm, pikirkan terlebih dahulu tentang ini. Setiap individu pasti memiliki pernyataan dan pertanyaan masing-masing, tetapi yang jelas….

“Sahabat itu seperti makhluk bawah laut yang akan muncul ke permukaan saat kamu ada masalah, bukan sebaliknya”

Kadang bertanya-tanya “dia sudah kuanggap sahabat sendiri dan dia mengatakan aku sahabatnya, tetapi mengapa datang di saat ia butuh saja?” well, satu-satunya pemikiran yang sangat positif  adalah “ah gakpapa membantu tanpa harus mengharapkan imbalan itu lebih baik”. Kemudian akan berpikir “lhoo bukannya saat beginilah kita berguna untuk orang lain?” ini bukan klise, dan pertanyaan ini salah satu penentu dan cara melihat apakah benar dia adalah “sahabat” untuk diri kita yang banyak kekurangannya ini. Kemudian orang lain datang dan bertanya “dia kemana saat kamu sedang susah seperti ini?” dan dengan pura-puranya akan menjawab “mungkin dia sedang sibuk dan ada masalah juga”. APA-APAAN INI?. Misalnya seperti ini :

A : “Dia datang di saat ia butuh, dan tak pernah sekalipun muncul saat kita sedang ada       masalah karena dia sendiri pun sedang ada masalah dan sibuk jadi positif thinking         saja”

Kemudian muncul si B dengan pernyataan……

B : “Kesalahan terbesar kita adalah tidak ikhlas melakukan sesuatu untuknya, dan               berharap lebih padanya”

“Permasalahan yang sebenarnya adalah bukan karena dia sendiri ada masalah, bukan karena dia sibuk, bukan karena kita tidak ikhlas, bukan karena kita berharap lebih, bukan karena ini dan itu. Permasalahannya adalah Karena kita adalah sahabat”

Dalam sebuah “persahabatan” tidak dibutuhkan “kesempurnaan” tetapi keberadaan dalam satu waktu, tidak harus tempat. Artinya, meskipun kita terpisahkan oleh jarak kita masih bisa peduli dan mendoakan satu sama lain. Tidak perlu intens dan setiap hari, tetapi setiap ada waktu untuk menyempatkan peduli satu sama lain.

Sahabat adalah orang kesekian yang peduli terhadapmu, termasuk hal-hal yang enggak penting sekalipun dalam hidupmu. Sahabat itu seperti ini……

  1. Menasehatimu saat kamu salah, dan masih menerimamu atas kekurangan yang ada pada dirimu
  2. Tidak membuat kita takut saat akan menyalurkan ide, gagasan, opini, bahkan ejekan (masih dalam batas wajar) karena bila ada ketakutan itu berarti ada sesuatu yang membuatmu “tak nyaman”
  3. Bersama-sama mengajak ke hal-hal yang baik, bukan sebaliknya
  4. Mendengarkanmu saat curhat/bercerita, bukan mengalihkan pembicaraan dan hanya ingin menjadi yang didengarkan saja
  5. Saat sedang terjadi masalah pada salah satunya, tidak terburu-buru menjudge atau menyalahkan, karena lebih baik bertanya dahulu duduk perkaranya.
  6. Bersahabat bukan berarti selalu harmonis, pasti akan ada saatnya bertengkar. Jika hal ini terjadi, maka sahabat yang baik akan merenungkan dan mencoba untuk menanggalkan ego dalam diri masing-masing, lalu berbaikan.
  7. Memahami kondisi masing-masing pribadi, terutama keluarga. Kita bersahabat maka akan banyak perbedaan, mulai dari idealisme, hobi, sudut pandang, sampai pada ekonomi keluarga. Maka tidak sepantasnya keinginan yang kita miliki dipaksakan pada sahabat, ini jelas tidak sehat.
  8. Lakukan hal-hal yang menyenangkan, asik, dan tidak merugikan orang lain.
  9. Ketika salah satu  ada yang membutuhkan, maka jadilah sahabat yg berusaha melakukan apapun yang bisa dilakukan, begitu juga sebaliknya.
  10. Tidak mengambil keuntungan salah satu pihak,  tetapi saling menguntungkan. Menguntungkan dalam arti bermanfaat dan positif untuk bersama.

“Terkadang teman datang karena butuh, bukan karena ingin. Tetapi sahabat akan sebaliknya”

Salam sahabat …….🙂