Tag

, , , , ,

Daratan mesopotamia adalah kawasan peradaban yang subur yakni antara 4500 BC dan 500 BC (Keister, 1965, p.18). Richard Mattesich (20020 membagi peradaban Mesopotamia ke dalam empat klarifikasi :

  1. 8000 sebelum Masehi (SM), merupakan awal munculnya sistem akuntansi hasil pertanian dan peternakan dalam bentuk token.
  2. 4400 SM, sistem akuntansi token yang lebih rinci untuk produk manufaktur.
  3. 3250 SM, pengelompokkan sistem akuntansi token.
  4. 3200 SM, sistem akuntansi token dalam bentuk tablet dan awal dari munculnya bentuk tulisan kuno (proto-cuneiform).
  5. 3100-3000 SM, munculnya tulisan kuno (Cuneiform).

Di lembah Mesopotamia, antara sungai Tigris dan Eufrat, berkembang peradaban Chaldean-Babilonia dan Sumeria (Mesopotamia berarti tanah di antara sungai atau tanah di antara dua sungai). Lembah antara sungai Tigris dan Eufrat sangat rawan mengingat terjadinya banjir secara periodic. Namun demikian, hal tersebut sangat menguntungkan bagi petani karena setelah air surut, tanah di sekitarnya menjadi subur sehingga petani menikmati hasil panen berlimpah dan terkadang mencapai tiga sampai empat kali dalam setahun. Perekonomian didasarkan pada agrikultur yang didominasi oleh pengolahan gandum. Produk lainnya adalah air, minyak, rami, holtikultura lainnya serta peternakan. Produksi wol cukup besar dan diubah ke dalam berbagai jenis tekstil. Pa wilayah Mesopotamia Utara, perekonomian berlandaskan pada perkebunan tanaman keras dan perikanan. Pada permulaan 2400 SM terdapat berhektar-hektar perkebunan palma yang menopang perekonomian daerah tersebut (Pruessner, 2002). Dengan adanya aktivitas-aktivitas ladang dan perkebunan tersebut, tentunya melibatkan aktivitas bisnis yang kemudian berujung pada pembuatan barang-barang kebutuhan seperti batu bata, pangkas rambut, bertenun, perkayuan, dan perbankan. Dari berbagai aktivitas tersebut, Mesopotamia berkembang menjadi bahasa perdagangan dan politik dunia, serta menjadi pusat jaringan perdagangan wilayah timur. Aktivitas yang dinilai menjadi pusat social tersebut ternyata juga mendapati permasalahan yang cukup kompleks, yakni masalah sistem pencatatan yang diperlukan untuk menghitung kepemilikan atas property dab transaksi diantara pihak-pihak yang terkait. Keister menguraikan bahwa penggunaan kertas catatan (tablet pencatat aktivitas)[3] akan lebih mengesankan jika disertai dengan berbagai simbol atau tanda yang dilengkapi juga dengan tulisan yang ditulis oleh ahlinya, yakni seorang pelopor dari akuntan saat ini. Meskipun sistem tersebut begitu relatif sederhana dimata standar modern, Keister menyatakan bahwa Perekonomian Mesopotamia tidak membutuhkan sistem yang lebih maju atau lebih baru (1965, p.23). Hubungan antara kebutuhan masyarakat Mesopotamia tiap tahun dengan ketentuan pelayanan adalah sistem pencatatan (akuntansi) yang sudah pasti akan ditutup. Hal ini beralaskan bahwa akuntansi telah menjadi konsep sosial yang berasal dari Mesopotamia. Akan tetapi, Miller dan Napier (dalam Sukoharsono & Qudsi) juga memberikan perspektif baru dalam melihat perkembangan akuntansi seperti melihat factor eksternal dan menekankan pada pentingnya akuntansi perubahan dalam merespon factor-faktor internal adalah pengetahuan tentang akuntansi itu sendiri. Salah satu perspektif yang digunakan dalam paradigm new accounting history adalah Foucaldian.

 

Untuk lebih lengkapnya download file disini Bentuk Dokumen (Doc)
Untuk lebih lengkapnya download file disini Bentuk PDF (Pdf)