Tag

, , , , , ,

Pohon itu menggugurkan daunya, ditengah dinginnya siang hari. Ia datang dari timur sedang menggendong kucingnya yang nampak masih basah karena tercebur ke dalam kolam. Jarak itu terlihat dekat sekali saat ia datang ke arahku dan melintasiku. Aku tidak tahu siapa namanya dan bagaimana keluarganya. Langkah kaki yang bersahaja itu mengingatkanku akan seseorang yang pernah singgah di dalam pikiranku. Iya, dia memang tampan dan penyayang binatang dan aku sedikit kagum dengannya.

Pagi hari aku sudah bersiap untuk pergi ke sekolah bersama temanku, panggil saja dia Andin. Andin memang suka ngaret kalo berangkat ke sekolah sampe dapat julukan “missKar” alias miss karet, karena hobinya yang ngaret dan selalu membawa karet kemana-mana. “Woy…..kinan….cepetan aku tunggu di depan” triak anak perempuan tomboy dari luar rumah. Sebenarnya dalam hati aku bergumam ‘tumben dia lumayan tepat waktu, biasanya mah jam 7 lebih baru nyampe depan rumah sampe-sampe aku kena getahnya tiap ketemu dengan penjaga gerbang sekolah.’ Hari ini adalah hari selasa, seperti biasa aku membawa bekal masakan ibuku dan sebotol air minum. “Nan…lama amat sih, keburu telat nih”. ah, anak ini seharusnya aku yang bilang begitu, baru juga pertama kali ini dia enggak telat. “Iya…sabar napa, bandingin dong waktu aku nunggu kamu bertahun-tahun dan sering telat sampe dihukum keliling lapangan voli samping sekolah” bantahku. Entah dia ini nyadar atau enggak ngomong begitu, udah stress dewa sih itu anak, jangan sampe aku ketularan gilanya yang gak waras itu.

Beberapa menit kemudian kami berangkat bersama, dan di tengah jalan di bawah tiang listrik dengan dinding yang sudah docorat-coret aku bertemu dengannya lagi. Laki-laki dengan langkah kaki bersahaja. “Ndin, lihat tuh cowok ndin….itu yang aku critain kemarin di telpon..bukan tampan sih, cuma masa iya sih ketemu kedua kalinya di sini tapi gak pernah liat dia di komplek rumah.” Yah wajar saja aku bertanya begitu detail dan agak sedikit kepo. “Ya mungkin bukan anak komplek kali kan. ” jawaban yang amat dan terlalu singkat. “ya terus dia anak mana dong ndin?”, terus saja dengan pertanyan yang tidak penting ini. Ketika melihatnya aku seperti melihat ada secercah harapn untuk bisa berteman dengannya. Aku ini memang sulit untuk jatuh cinta namun ketika melihat seseorang yang menarik, aku bahkan ingin menariknya ke dalam kehidupanku. Pernyatan bodoh macam apa ini, huh. “Kan…….cepetan kan jalannya kan, adoh…..udah telat ini.” Andin terus saja mendesakku saat aku sedang menikmati angan angan dan pernyataan bodoh ini. Ah..aku pikir dia ini juga masih anak sekolahan seumuran kami berdua. Meskipun tak mengenalnya, yah tapi gimana…terlanjur ingin menariknya!

Bunyi bel sekolah sudah terdengar dari kejauhan. Kami berdua pu lari hingga terengap-engap. “Kalian lagi …kalian lagi, bapak sampe bosen meskipun wajah kalian berdua cantik.” Ampun banget dibilang wajah membosankan. “Kami juga bosan pak dapet omel mulu dari bapak, mana bapak lagi..bapak lagi yang ada di depan gerbang. Ini sekolah apa enggak kuat bayar satpam lain apa ya” sahut Andin dengan cepat. Ini anak memang luar biasa, sungguh luar biasa beraninya. Sedikit salut dalam ketakutan, takut jika harus disuruh lari bersamanya lagi. “Kalian ini memang bener-bener ya, sudah masuk sana.” Ya Tuhan…..tumben hari ini enggak dapet hukuman, lega rasanya. Tiba-tiba pak satpam berteriak “siapa suruh kalian masuk ke kelas, masuk ke pintu kanan sana terus keliling lapangan basket, karena lapangan volli akan dipakai.” Ah kampret banget memang, kirain dapet ijin langsung masuk kelas. “….ndin..gendong ndin..gak kuat”. Saking udah lelahnya tiap hari disuruh lari memutari sana sini. “jangan manja Nan..tiap hari kita kan udah terbiasa lari begini.” Dasar emang ini anak orang, kayak kagak punya salah dan dosa banget sama aku dan pak satpam. Sembari masih berlari tiba tiba anak kelas 3B keluar dari kelasnya karena akan bermain volli. Ah, melihat anak-anak kelas tiga rasanya ingin cepat-cepat naik ke kelas tiga, lulus, dan kuliah. Pak Erwin sebagai guru olah raga terlihat sedang mengabsen muridnya satu-satu. Tiba-tiba semua anak melihat ke barisan belakang, mereka seperti mencari seseorang yang belum datang. Pak Erwin pun meninggikan suaranya hingga terdengar sampai lapangan basket. “Radiansyah Syahputra Hanggajaya” panggil pak guru. “Nan….lihat tuh cowok nan, haha dia tak jauh beda sama kita yah, suka telat.” Andin memang selalu bangga menyebut aku dan dia, terutama dirinya sendiri yang suka datang terlambat dan karetan. Beberapa menit kemudian, seorang laki-laki dengan badan tegap berlari dari arah timur. Aku seperti tak asing dengan wajahnya. “Oh My…..ndin…..lihat ndin….itu..dia ndin..dia….”. saking kagetnya karena terkejut dengan sosok manis itu. “Alamak, nan…itu kan…..si anu Nan…”

__________________________________bersambung